Selasa, 05 Oktober 2010
SEJARAH PERADABAN ISLAM (1)
I. Periode Peradaban Islam Periode nabi Muhammad SAW.
Menelusuri peradaban Islam tentu saja harus dimulai dari awal munculnya agama Islam pada masa Rasulullah SAW, karena disitulah pondasi seluruh nilai-nilai peradaban Islam. Pada masa kenabian Rasulullah SAW yang hanya 23 tahun ini, Rasulullah menanamkan seluruh nilai-nilai dan ajaran Islam baik yang bersifat individual dan sosial.
A. Periode Mekkah
Periode ini dimulai sejak Nabi Rasulullah mulai memulai dakwahnya, pertama secara diam-diam, hanya berdakwah ke keluarga, sahabat dekat dan orang-orang yang dekat dengan beliau. Sampai akhirnya, istrinya Siti Khadijah, sepupunya Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritha, dan Abu Bakar memeluk Islam. Lalu datanglah wahyu kedua yang meminta beliau untuk berdakwah secara terang-terangan.
Selama periode ini Rasulullah selalu mendapat tantangan, masalah dan yang sejenisnya, dari kaumnya sendiri. Tapi tak ada satupun yang berani menggangu Rasulullah secara langsung, karena beliau selalu berada dalam perlindungan paman tercinta, Abu Thalib. Tapi Abu Thalib sendiri mempunyai karakter yang khas, dia membenarkan Islam dan menyayangi serta melindungi Rasulullah, tetapi dia tidak pernah mengikuti apa yang dibelanya sampai dia meninggal. Baru setelah paman dan istrinya meningal, para penduduk kafir Quraisy mulai memberikan berbagai tekanan kepada Rasulullah. Untuk menghibur Rasulullah yang sedang bersedih hati, Allahpun mengijinkan beliau untuk bertemu langsung dengan-Nya. Kejadian ini bernama Isra Mi’raj.
Nabi Muhammad tak putus asa dalam menyerukan dakwah Islam, dan strategi dakwah mulai dilakukan “pada musim haji”. Rasulullah menyebarkan ajaran Islam ditengah-tengah jemaah haji dari berbagai macam suku Arab, tetapi ajaran tauhid masih menimbulkan ejekan dan hinaan dari mereka. Bagaimanapun juga keadaan membuktikan, bahwa Rasulullah mulai mengalihkan startegi dakwahnya dengan lebih baik untuk menyebarkan ajarannya ketika menjumpai sekelompok kecil dari jemaah haji yang berasal dari Yatsrib [yang kemudian disebut Madinah]. Penduduk kota ini terdiri dari bani Aws, bani Khazraj, suku Yahudi dari bani Quraisy dan Nadhir. Walaupun sudah lama terjadi permusuhan, mereka lebih dapat untuk memahami ajakan Rasulullah daripada menyembah berhala oleh penduduk Mekkah. Mereka memeluk agama Islam dan pulang ke negeri mereka sebagai missionaries atau juru dakwah Islam sehingga ajaran baru ini cepat tersebar dari rumah ke rumah bahkan dari suku ke suku yang lain.
Karena tekanan yang terus digencarkan oleh kaum Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk hijrah ke Yatsrib atau pada jaman sekarang lebih dikenal dengan kota Madinah. Maka berakhirlah periode Islam di Mekkah yang telah berjalan kurang lebih 13 tahun.
Selain itu, periode Mekkah lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai dasar Islam, sekaligus mengkoreksi nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat Quraisy. Sehingga kalau kita lihat dalam ayat-ayat Al-Quran periode Mekkah akan terlihat sekali bahwa kebanyakan ayat-ayat tersebut bertemakan hal-hal yaitu:
1. Tauhid
2. Hari Akhir
3. Mengkritik kecintaan kepada dunia (materialisme)
4. Pembelaan kepada kaum lemah (mustadh'afin) dan miskin
5. Akhlaq dasar Islam.
Berikut misalnya contoh ayat-ayat Makkiyah:
QS Al-Mudatsir:
1. Hai orang yang berkemul (berselimut), (QS. 74:1)
2. bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. 74:2)
3. dan Rabbmu agungkanlah, (QS. 74:3)
4. dan pakaianmu bersihkanlah, (QS. 74:4)
5. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, (QS. 74:5)
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (QS. 74:6)
7. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74:7)
8. Apabila ditiup sangkakala, (QS. 74:8)
9. maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, (QS. 74:9)
10. bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (QS. 74:1
QS Al-Ikhlas:
1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa". (QS. 112:1)
2. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. (QS. 112:2)
3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. 112:3)
4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. 112:4)
QS Al-Humazah
1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya , (QS. 104:2)
3. ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. (QS. 104:4)
5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (QS. 104:5)
QS Al-Maun:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (QS. 107:1)
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, (QS. 107:2)
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. 107:3)
Dari ayat-ayat tersebut terlihat bahwa Ayat-ayat Makkiyah ini bersifat lugas, singkat, tegas dan menggugah. Isinya berisi dasar-dasar nilai Islam, yaitu akidah dan akhlaq. Dalam bahasa sekarang barangkali pembentukan ideologi. Sedikit yang berisi aturan-aturan rinci.
Karena nilai-nilai yang ditawarkan Islam ini bersifat pembebasan (dari berhala dan tirani), dan emasipatif, maka pada periode ini dakwah Islam banyak menarik kelompok tertindas (mustadh'afin), meski di kalangan sosial atas juga ada (seperti Abu Bakar dan Usman). Di sisi lain, ditentang keras oleh kelompok elit dan status quo di Quraisy.
B. Periode Madinah
Pada masa ini Rasulullah sendiri yang memimpin umat, segala urusan umat semuanya atas kendali dan pantauannya. Selain sebagai pemimpin agama, Rasulullah juga sebagai kepala Negara, dengan sebuah masjid yang dia bangun pada tahun pertama di madinah pasca Hijrah sebagai pusat kegiatan umat .
Dakwah secara terang-terangan ini beliau lakukan setelah melihat keadaan umat Islam semakin kuat, Yatsrib/ Madinah sebagai ibu kota pemerintahan, pun juga menjadi tempat dimana kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar.
Tidak sulit bagi Rasulullah untuk memperluas dakwahnya, hanya dalam kurun waktu 10 tahun setelah dia wafat dia mampu memperluas dakwahnya sampai ke kawasan sebagaian besar Jazirah Arab.
Kesuksesan Rasulullah tidak hanya dalam masalah sosial, bahkan juga masalah ilmu pengetahuan. Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman umat , pada saat itu menjadi materi pokok dan menjadi bahan kajian intelektual umat. Bukan hanya itu, tradisi intelektual (tafaqquh) pada masa itu, juga berbentuk semacam institusi (lembaga) yang dikenal dengan “al-Suffah” dan komunitas intelektualnya disebut “ashhabussuffah”.
Dalam pemberdayaan umat , Rasulullah juga sempat membentuk undang-undang agar umat dapat hidup tentram, dan harmonis, antara kamu muslimin dan yang lain. Undang-undang madinah (Dusturul Madinah) atau biasa dikenal dengan Piagam Madinah sebelum terjadinya perang Badr (2 H/ 642 M). dengan kata lain, Nabi berusaha menciptakan system politik yang mapan yang akan menjamin kehidupan bersama .
Periode ini berlangsung selama sekitar 10 tahun. Berbeda dengan periode Mekkah, pada periode Madinah ini mulai dibangun sistem sosial kemasyarakatan, berdasarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan di Makkah. Berbagai aturan yang rinci diperkenalkan.
Sebagai contoh, jika periode Makkah ditanamkan kecintaan kepada kelompok tertindas (sebagaimana ayat2 di atas), maka periode Madinah dibangun aturan penerapan cara menyantuni kelompok tertindas melalui ketentuan zakat, misalnya. Misalnya dalam ayat-ayat berikut:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu'allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:60)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 9:103)
Pada periode ini, nilai-nilai ideal Islam diterapkan dalam masyarakat Madinah, inilah dasar peradaban Islam yang ideal. Kalau kita perhatikan maka peradaban Islam yang ingin dibangun Islam memiliki (paling tidak) beberapa sifat pokok, yang berbeda dengan masyarakat Quraisy:
1. Masyarakat Tauhid
Masyarakat Tauhid adalah masyarakat yang bergerak menuju dan berorientasi kepada ketundukan kepada Allah Yang Maha Esa. Ketundukan kepada Allah menjadi pengikat seluruh sekaligus puncak ketaatan. Masyarakat Tauhid menganggap hanya Allah SWT, dan perintahnya yang layak diterima tanpa reserve, sedang yang lainnya hanya diterima jika tidak bertentangan dengan prinsip pertama. Karenanya masyarakat tauhid adalah masyarakat yang meletakkan nilai spiritual pada tempat tertinggi, dan mendasari seluruh kehidupan.
2. Masyarakat berkeadilan, terbuka, egaliter dan emansipatif
Konsekuensi logis dari masyarakat Tauhid, adalah menganggap seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama (egaliter), bersikap adil kepada sesama, terbuka terhadap siapa saja untuk menerima sesuatu yang baik dan benar tanpa memandang latar belakang, sekaligus membebaskan (emansipatif) dari segala belenggu yang tidak perlu. Karena sikapnya yang seperti itu pada awalnya banyak sekali pengikut dari kalangan tertindas dan kelompok sosial ekonomi yang rendah.
3. Masyarakat berpegang pada hukum (syariah)
Dalam masyarakat yang dikembangkan oleh Rasululllah SAW, Hukum-hukum Allah diletakkan sebagai undang-undang dalam kehidupan (rule of law), mengalahkan seluruh kekuasaan, maupun kedudukan sosial. Semua orang memiliki hak dan kedudukan yang sama di hadapan hukum Allah, tidak ada beda antara kulit hitam dan kulit putih.
4. Masyarakat yang bersatu berdasarkan keimanan, bukan pada kelompok
Berbeda dengan masyarakat jahiliah yang menjadikan Kabilah/suku, menjadi pusat identitas dan keterikatan setiap individu, masyarakat Islam menjadikan keimanan sebagai basis keterikatan dan identitas.
Nilai-nilai dasar inilah, yang kemudian dikembangkan sepanjang sejarah peradaban Islam berikutnya.
SUMBER:
Afkar, abu.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (2)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
----------------.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (3)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
Sanaky,A.H. Hujair.2008.Peradaban Islam Masa Nabi[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Periode Klasik[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
Syamsuri.2004.Pendidikan Agama Islam untuk Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Tanpa Nama.2009.Sejarah Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan[download]. http://cafebelajar.com. 30 September 2010.
Tanpa Nama.2008. Perkembangan Islam pada Zaman Modern[download]. http://hbis.wordpress.com. 30 September 2010.
MAKALAH BENTUK DAN JENIS KATA
BENTUK DAN JENIS KATA
A. Bentuk Kata
1. Kata Dasar
Umumnya kata dasar dalam bahasa Indonesia, dan juga semua bahasa yang serumpun dengan bahasa Indonesia, terjadi dari dua suku kata; misalnya: rumah, lari, nasi, padi, pikul, jalan, tidur dan sebagainya. Seorang ahli bahasa Jerman, Otto von Dempwolff, dalam penelitiannya tentang bahasa Indonesia telah menetapkan dua macam pola susunan kata dasar dalam bahasa Indonesia. Pola itu disebutnya Pola Kanonik atau Pola Wajib , yaitu:
a. Pola Kanonik I: K-V-K-V, maksudnya tata susun bunyi yang membentuk suatu kata dasar terdiri dari: Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal, misalnya: padi, lari, paku, tiga, dada, dan sebagainya.
b. Pola Kanonik II: K-V-K-V-K, maksudnya di samping Pola Kanonik I kata-kata dasar Indonesia dapat juga tersusun dari Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal-Konsonan, misalnya: rumah, tanah, batang, sayap, larang, dan lain-lain.
Kita tidak menyangkal akan apa yang telah dikemukakan oleh von Dempwolff. Tetapi, andaikata kita menerima secara mutlak Pola Kanoniknya itu sebagai dasar yang absolut, maka bagaimana kita harus menerapkan kata-kata seperti tendang, banting, panggil, aku, api, anak, dan lain-lain? Berarti kita sekurang-kurangnya menambahkan beberapa macam rumus lagi agar bisa menampung semua kata dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia, misalnya: K-V-K-K-V-K, V-K-V-K, V-K-V. Dan semua rumus ini sekurang-kurangnya baru mengenai kata-kata dasar. Jika kita membahas kata-kata pada umumnya, tentu akan lebih banyak lagi.
Oleh karena itu kita mengambil suatu dasar lain yang lebih sempit yaitu berdasarkan suku kata ( silaba ). Bila kita berusaha untuk memecah-mecahkan kata dasar bahasa Indonesia menjadi sukukata-sukukata, maka kta akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa ada tiga macam struktur sukukata dalam bahasa Indonesia yaitu: V, V-K, K-V , dan K-V-K . Dengan demikian kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia dibentuk dari kemungkinan-kemungkinan gabungan dari ketiga jenis silaba itu, misalnya:
ru - mah (K-V + K-V-K)
ka - ta (K-V + K-V)
a - pa (V + K-V)
lem - but (K-V-K + K-V-K)
na - ik (K-V + V-K)
a - ir (V + V-K) dan lain-lain.
2. Kata Turunan
Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (atau akhiran).
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian.
a. Bentuk Kata Ulang
Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.
1) Kata ulang penuh atau kata ulang murni, yaitu semua kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh.
Misalnya: rumah-rumah, sakit-sakit.
2) Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, yaitu semua kata ulang yang salah satu unsurnya berimbuan: awalan, sisipan, atau akhiran. Misalnya: berjalan-jalan, turun-temurun, tanam-tanaman.
3) Kata ulang berubah bunyi, yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang.
Misalnya: bolak-balik, serba-serbi.
4) Kata ulang semu, yaitu kata yang hanya dijumpai dalam bentuk ulang itu. Jika tidak diulang, komponennya tidak memunyai makna atau bisa juga memunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan kata ulang tersebut.
Misalnya: hati-hati, tiba-tiba, kunang-kunang.
5) Kata ulang dwipurwa, yang berarti "dahulu dua" atau kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Kata ulang ini disebut juga reduplikasi, yang berasal dari bahasa Inggris "reduplication" yang berarti perulangan. Sebenarnya semua kata ulang juga dapat disebut reduplikasi.
Misalnya: lelaki, tetua.
b. Makna dan Fungsi Kata Ulang
1) Perulangan kata benda
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata benda.
a) Menyatakan benda itu bermacam-macam. Misalnya: buah-buahan, sayur-sayuran.
b) Menyatakan benda yang menyerupai bentuk dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
2) Perulangan kata kerja
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata kerja.
a) Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali. Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
b) Menyatakan aspek duratif, yaitu proses pekerjaan, pembuatan, atau keadaan yang berlangsung lama.
Misalnya: berenang-renang, duduk-duduk.
c) Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.Misalnya: cetak-mencetak, karang-mengarang.
d) Menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh dua belah pikak atau berbalasan. Misalnya: tembak-menembak, tuduh-menuduh
3) Perulangan kata sifat
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata sifat.
a) Menyatakan makna lebih (intensitas). Misalnya: Berjalan cepat-cepat! Kerjakan baik-baik!
b) Menyatakan makna sampai atau pernah. Misalnya: Tak sembuh-sembuh sakitnya walaupun ia sudah berobat ke luar negeri (tak pernah sembuh). Habis-habisan ia berbelanja (sampai habis). Digabungkan dengan awalan se- dan akhiran -nya mengandung makna superlatif (paling).
Misalnya: Kerjakan sebaik-baiknya agar hasilnya memuaskan. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya.
c) Berlawanan dengan makna nomor satu atau melemahkan arti kata sifat itu. Misalnya: Badanku sakit-sakit saja rasanya. (sakit di sana-sini, tapi tidak terlalu sakit) Kalau kepalamu pening-pening, bawalah tidur. (agak pening; pening sedikit)
d) Bentuk yang seolah-olah sudah mejadi ungkapan dalam bahasa Indonesia, makna perulangannya kurang jelas.
Misalnya: Jangan menakut-nakuti anak-anak karena akan memengaruhi jiwanya kelak.
4) Perulangan kata bilangan
a) Perulangan kata satu menjadi satu-satu memberi makna "satu demi satu". Misalnya: Peserta ujian masuk ruangan itu satu-satu.
b) Perulangan kata satu dengan tambahan akhiran -nya memberi makna "hanya satu itu". Misalnya: Ini anak saya satu-satunya.
c) Perulangan kata dua-dua, tiga-tiga, dst. memberi pengertian "sekaligus dua, tiga, dst.". Misalnya: Jangan masuk dua-dua karena pintu itu tidak lebar.
d) Bentuk perulangan berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, dst. menyatakan makna "kelipatan sepuluh, seratus, seribu, dst.. Misalnya: Beribu-ribu orang yang mati dalam peperangan itu.Bentuk perulangan kata bilangan dengan awalan ber-, saat ini sering diganti dengan bentukan dengan akhiran -an. Misalnya: berpuluh-puluh menjadi puluhan.
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru. Kata majemuk adalah gabungan 2 kata atau lebih yang memiliki struktur tetap, tidak dapat di sisipi kata lain. Contohnya Meja makan. Gabungan kata di atas termasuk contoh kata majemuk karena strukturnya tetap, tidak dapat diubah-ubah letaknya.
Contohnya : makan meja (tidak logis). Kemudian, gabungan kata tersebut tidak dapat disisipi oleh kata lain, misal ontohnya Meja (yang) makan (tidak logis). Meja (sedang) makan (tidak logis)
Selain itu, ciri lain dari kata majemuk adalah gabungan kata tersebut membentuk makna baru. Namun, makna baru tersebut masih dapat dirunut atau ditelusuri dari makna kata pembentuknya. Contohnya :
- Rumah baru (a)
- Tono sakit (b)
- Rumah sakit (c)
B. Jenis Kata
1. Penggolongan Kata Secara Tradisional
Tardjan Hadidjaja (1965:53-99) dalam bukunya Tatabahasa Indonesia cetakan keempat. menggolongkan kata menjadi seuluh. Kesepuluh jenis atau golongan tersebut ialah:
a. Kata Benda
Kata benda ialah kata-kata yang menyatakan benda. Kata benda dapat dibedakan berdasarkan:
1) Bentuknya.
Menurut bentuknya, kata benda dapat dibedakan menjadi: a) kata benda kata asal, seperti: hati, orang, rakit; b) kata benda kata majernuk, seperti: burung kakak tua, Lautan Teduh; c) kata benda kata berulang, seperti: tengah-tengahnya, batang-batang; dan d) kata benda kata bersambung, seperti: keadaan, lautan, pikiran.
2) Keadaannya
Menurut kedaannya, kata benda ddapat dibedakan menjadi dua yaitu: a) kata benda kongkrit yaitu kata benda yang menyatakan bahwa benda-bendanya itu memang benar-benar ada, seperti: orang, burung, buku pelajaran, dan yang menyatakan benda khayal, seperti: hantu, pelesit, bidadari, dan b) kata benda abstrak yaitu kata yang menyatakan nama benda yang hanya dapat difahami oleh pikiran akan peri adanya itu, seperti: ilham, angan-angan, perdamaian.
3) Artinya
Menurut artinya, kata benda dapat dibagi menjadi: a) kata benda nama jenis, seperti: rumah, daun, matahari; b) nama diri, seperti: Leutan Teduh, Torstein; c) kata benda nama zat, seperti: air, angin dan d) kata benda nama kumpulan, seperti: berkas, rumpun, kelompok.
b. Kata Kerja
Kata kerja dapat dibagi bermacam-macam, bergantung dari segi tinjaunya. Untuk menggolongkan kata kerja dapat ditinjau dari:
1) Bentuknya
Menurut bentuknya, kata kerja dapat dibedakan menjadi empat yaitu: a) kata kerja kata asal, seperti: hendak, jatuh; b) kata kerja kata majemuk, seperti: turun naik, ditandatangani, c) kata kerja kata berulang, seperti: Berkejar-kejaran; dan d) kata kerja bersambungan, seperti: menghadapi, terdorong.
2) Hubungannya
Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja digolongkannya mnjadi dua, yaitu:
a) Kata keja bentuk tindak, ialah apabila pokok itu bertindak yakni melakukan atau
mengenakan pekerjaan, seperti: duduk, turun naik, berlari-lari, berjual-beli;
b) Kata kerja bentuk taggap ialah. apabila pokok itu menanggapi yakni diberlakukan atau dikenai pekerjaan, seperti: dipukul, dipukul mundur, terjerumus, tertunda-tunda.
c. Kata Ganti
Kata ganti ialah perkataan yang akan menjadi pengganti nama orang atau nama benda. Jenisnya dapat dibedakan:
1) Kata ganti orang, yang dapat dibedakan lagi menjadi: a) kata ganti orang kesatu (tunggal atau rufrad dan jamak). contohnya: aku, hamba, kami; b) kata ganti orang kedua (tunggal atau mufrad dan jarak), contohnya: engkau, kalian, kamu; c) kata ganti orang ketiga (mufrad dan jamak), contohnya: ia,dia, mereka.
2) Kata ganti pemilik, yang dapat dibedakan mejadi: a) kata ganti pemilik kesatu (mufrad dan jamak), contoh: aku, kami, kalian; b) kata ganti pemilik kedua (mufrad dan jamak), contohnya: tuan, mu, kamu; dan c) kata ganti pemilik tiga (mufrad dan jamak), seperti: nya, mereka
3) Kata ganti penanya, seperti: apa, siapa;
4) Kata ganti penunjuk, seperti: ini dan itu;
5) Kata ganti penghubung ialah kata yang.
d. Kata Bilangan
Kata bilangan dapat digolongkan dengan segi tinjau:
1) Bentuk
Berdasarkan bentuknya, kata bilangan dapat dibedakan menjadi: a) bentuk kata asal, sererti: tujuh, banyak; b) Bentuk kata majemuk, seperti: dua tiga hari, seorang dua; dan c) bantuk kata berulang, seperti: tiga-tiga, dua-dua;
2) Artinya
Menurut artinya kata bilangan dapat dibedakan atas: a) Kata bilangan pokok, yang terdiri lagi atas: (1)kata bilangan pokok yang tertentu, satu, dua tiga; (2) kata bilangan pokok yang tak tentu, seperti: semua, segala, tiaptiap; b) Kata bilangan tingkat, yang dapat dibedakan lagi menjadi: (1) kata bilangan tingkat yang tentu, misalnya: kesatu, kedua dan (2) kata bilangan yang tak tentu, Seperti: kesekian. c) Kata bilangan pecahan, seperti: sepertiga, seperempat.
e. Kata Sifat
Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan sesuatu benda. Berdasarkan bentuknya, kata sifat dapat dibedakan menjadi: a) kata sifat bentuk kata asal, seperti: besar, lebar; b) kata sifat bentuk kata majemuk, seperti: merah putih, gagah berani, dan c) kata sifat bentuk berulang, seperti: tegap-tegap, besar-besar, serta d) kata sifat bentuk bersambungan, sererti: berbau, meluas, kemerah-merahan.
f. Kata Tambahan
Kata tambahan ialah kata-kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata-kata yang bukan kata benda. Golongan ini dapat dibedakan menjadi:
1) penunjuk waktu, seperti: pagi-pagi, baru, setelah;
2) penunjuk tempat, seperti: di sini, di atas, ke sana;
3) penunjuk peri keaadaan, seperti: beribahati, sungguh-sungguh;
4) penunjuk banyak dan taraf ketandasan, seperi: terlalu, semata-mata, hanya, agak; dan
5) penunjuk taraf kepastian, yang dapat dibedakar lagi menjadi: (a) kepastian, seperti: pasti, sungguh (b) kemungkinan, seperti: mungkin, barangkali, (c) pengharapan dan permintaan, seperti: semoga, mudah-mudahan, dan (d) ingkar, seperti: tidak, jangan.
g. Kata Depan
Kata Depan menurut definisi tradisional adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian-bagian kalimat. Kata-kata Depan yang terpenting dalam bahasa Indonesia ialah:
1) Di, Ke, Dari: ketiga macam kata depan ini dipergunakan untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat.
2) Pada: bagi kata-kata yang menyatakan orang, nama orang atau nama binatang, nama waktu atau kiasan dipergunakan kata pada untuk menggantikan di, atau kata-kata depan lain yang digabungkan dengan pada seperti daripada, kepada.
3) Selain daripada itu terdapat Kata Depan yang lain, seperti: di mana, di sini, di situ, akan, oleh, dalam, atas, demi, guna, untuk, buat, berkat, terhadap, antara, tentang, hingga, dan lain-lain. Di samping itu ada beberapa Kata Kerja yang dipakai pula sebagai kata depan, yaitu: menurut, menghadap, mendapatkan, melalui, menuju, menjelang, sampai.
h. Kata Penghubung
Kata penghubung ialah kata-kata yang gunanya untuk menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan yang mendahuluinya atau sebuah kalimat dengan kalimat yang mendahuluinya. Menurut artinya, kata ini dapat dibedakan menjadi:
1) kata penghubung penunjuk gabungan, seperti: serta, dan, lagi pula;
2) kata penghuhung pengantar penunjuk waktu, seperti: waktu, ketika, setelah, sementara;
3) kata penghubung penunjuk maksud atau tujuan, seperti: agar, supaya, biar.
4) kata penghubung penunjuk perlawanan, seperti: tetapi, akan tetapi, melainkan;
5) kata penghubung penunjuk sebab atau akibat, seperti: sebab, karena, sampai;
6) kata penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau peryataan mengalah, seperti: biar,biarpun, walau, biar sekalipun; dan
7) kata penghubung penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa (yang).
i. Kata Sandang
Kata sandang ialah kata yang gunanya untuk menegaskan kata yang berikutnya yang disandanginya, hingga kata-kata itu mempunyai arti yang tentu, tersekat dari nada yang lain—lain. Menurut fungsinya, kata sandang dapat dibedakan menjadi: 1) kata sandang pembentuk kata benda, Yang kurap, si Cebol, Merah putih; 2) untuk mengeraskan arti, menyekat, atau menceraikan kata benda daripada yang lain-lain, seperti: kembalikan saja kepada si pengirim, saya sendiri menjemputmu kemarin; 3) untuk menghormat, seperti.: sang Bangsawan, sang Ibu; dan 4) untuk menyekat atau menceraikan sesuatu dan kelornpok atau “dunianya’, seperti: sebuah kursi, seekor kambing.
j. Kata Seru.
Kata seru ialah kata-kata yang gunanya hanya untuk “melepaskan” perasaan, keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja, seolah-olah terlompat begitu saja dari mulut. Menurut sifatnya, kate seru dapat dibedakan menjadi:
1) kata seru sejati, aduh, amboi, wahai;
2) kata seru tiruan bunyi, seperti: ciap, meong, das
3) kata seru yang terjadi dan kata-kata biasa, seperti:kasihan, inalillahi, saying.
Selain itu, kata seru pun dapat dibedakan menurut maksudnya yaitu:
1) penyeru biasa, seperti: hai nenekku;
2) kata seru yang menyataka kata heran, seerti: wah;
3) kata seru yang menyataken rase sakit atau terancam behaya, seperti: aduh
4) kata seru yang menyatakan rasa iba atau sedih, seperti: kasihan, amboi
5) kata seru yang menyatakan kecewa, seperti: saying, celaka;
6) kata seru yang menyatakar kaget bercampur sedih, seperti: masyaallah;
7) kata seru menyetakan rasa lega, sererti: alhamdulillah;
8) kata seru yang menyatakan jijik, seperti: cih, cis.
2. Penggolongan Secara Non-Tradisional
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh kategori, yaitu:
a. Nomina (kata benda)
Nomina adalah kategori yang secara sintaksis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak. Kedua, mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Ketiga, tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (lebih, sangat dan paling). Keempat, tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib. Kelima, dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti satu, sebuah, sebatang dan sebagainya. Ada beberapa jenis nomina yaitu :
1) nomina dasar
contoh : batu,radio,kertas,udara
2) nomina turunan
a) nomina berafiks : keuangan, perpaduan
b) nomina reduplikasi :tetamu, rumah-rumah
c) nomina hasil gabungan proses : batu-batuan, kesinambungan.
d) nomina yang berasal dari berbagai kelas karena proses :
(1) deverbaliasi : pemandian, kebersamaan
(2) deakjitivalisasi : ketinggian, leluhur
(3) deaverbalisasi : kelebihan, keterlaluan.
(4) Penggabungan : jatuhnya, tridurnya.
b. Verba (kata kerja)
Kita harus menyadari bahwa dalam bahasa Indonesia ada dua dasar yang dipakai dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena memiliki makna, dan bentuk dasar dasar yang berafiks atau turunan. Kata verba sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa. Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbia frekeunsi, seperti sering, jarang, kadang-kadang, atau selalu. Ketiga, tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya, misalnya sebutir, sebatang dll. Keempat, didampingi oleh semua adverbia jumlah, seperti sedikit, kurang atau cukup.
Kelima, dapat didampingi oleh semua adverbia kala, seperti sudah, sedang atau akan. Keenam, dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian, seperti belum, baru atau sedang. Ketujuh, dapat didampingi oleh semua adverbia keharusan, seperti boleh atau wajib. Kedelapan, dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian, seperti pasti, tentu atau mungkin.
Dari bentuknya verba dapat dibedakan menjadi :
1) verba dasar bebas
Verba dasar yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Contohnya : duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang,dll.
2) verba turunan
Verba turunan yaitu verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Sebagai bentuk turunan dapat kita jumpai :
a) verba berafiks
contohnya : ajari, bernyanyi, bertaburan, bersentuhan, ditulis, jahitkan, kematian, melahirkan, menari, menguliti, menjalani, kehilangan, berbuat, terpikirkan.
b) verba bereduplikasi
contohnya : bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan.
c) verba berproses gabungan
contohnya : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, terbayang-bayang.
d) verba majemuk
contoh : cuci mata, campur tangan, unjuk gigi.
Lalu, dalam kedudukannya sebagai predikat dapat dibedakan menjadi
1) Verba transitif (membunuh),
2) Verba kerja intransitif (meninggal).
c. Adjektiva (kata sifat)
Adjektiva atau kata sifat berfungsi untuk menerangkan kata benda, seperti kopi panas dan lain sebagainya. Selain itu kata sifat juga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tidak dapat didampingi oleh adverbia frekeunsi sering, jarang dan kadang-kadang. Kedua, tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah, seperti banyak atau sedikit. Ketiga, dapat didampingi oleh semua adverbia derajat, misalnya agak, lebih dan lain sebagainya. Keempat, dapat didampingi oleh adverbia kepastian, misalnya pasti, tentu dan lain sebagainya. Kelima, tidak dapat diberi adverbia kala hendak atau mau.
1) Adjektiva dasar
Adjektiva dasar yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Contohnya : bagus, jelek, besar, kecil,dll.
2) Adjektiva turunan
a) Adjektiva turunan berafiks, misalnya terhorma.
b) Adjektiva turunan bereduplikasi, misalnya muda-muda, gagah-gagah.
c) Adjektiva berafiks ke-an, misalnya kesakitan, kesepian.
d) Adjektiva berafiks –i, misalnya duniawi, alami, hewani.
e) Adjektiva yang berasal dari berbagai kelas dengan proses-proses berikut :
(1) Deverbalisasi, misalnya Melengking, menyenangkan
(2) Denominalisasi, misalnya berakar, beranfaat
(3) De-adverbalisasi, misalnya berkurang, bertambahkan.
(4) Denumeralia, misalnya mendua.
(5) De-interjeksi, misalnya aduhai, sip, wah.
3) Adjektiva Majemuk
a) subordinatif :
buta warna - panjang akal
besar mulut - terang hati
b) koordinatif :
aman sentosa - lemah lembut
besar kecil - suka duka
d. Adverbia (kata keterangan)
Dalam berbagai buku tata bahasa sekolah, adverbia lebih dikenal dengan kata keterangan. Fungsinya adalah menerangkan kata kerja , kata sifat, dan jenis kata yang lainnya.
1) Adverbia dalam bentuk dasar bebas. Contoh : Alangkah, Agak,Bisa, Hampir, Masih, Memang, Paling, Nian, Niscaya, Sangat, dll.
2) Adverbia turunan, terbagi atas :
a) adverbia turunan yang tidak berpindah kelas kata terdiri dari :
(1) adverbia bereduplikasi. Contoh : agak-agak, bisa-bisa, jangan-jangan, rada-rada.
(2) adverbia gabungan .Contoh : belum boleh, tidak boleh, tidak mungkin lagi, belum tentu.
b) Adverbia turunan yang berasal dari berbagai kelas kata, terdiri dari :
(1) Adverbia berafiks, yaitu dengan prefiks ter- .Contoh : terlalu, dan terlampau.
(2) Adverbia dari kategori lain karena reduplikasi.
(a) denominal : akhir-akhir, malam-malam, malu-malu, pagi-pagi.
(b) Depronominal : sendiri-sendiri.
(c) Adverbia de-ajektiva : awas-awas, baik-baik, benar-benar.
(d) Adverbia denumerelia : sedikit-sedikit, dua-dua.
(e) Adverbia deverbal : kira-kira, tahu-tahu.
3) Adverbia yang terjadi dari gabungan kategori lain dan pronomina
A + -nya :agaknya, harusnya
N + -nya : rasanya, rupanya
V + -nya : hendaknya, kiranya
A +-nya : biasanya, layaknya
Num + -nya : seluruhnya, biasanya
4) Adverbia deverbal gabungan.
Misalnya : mau tak mau, masih belum juga, tidak trkatakan lagi.
5) Adverbia de-akjetiva gabungan
Misalnya : tidak jarang, tidak lebih, terlebih lagi, kerap kali, acap kali
6) Gabungan proses
Se- + A + -nya : sebaiknya, sebenarnya, sesungguhnya.
Se- + V + -nya : senarusnya, sedapatnya.
e. Pronomina (kata ganti)
Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina. Apa yang digantikannya itu disebut antiseden. Secara umum lazim dibedakan adanya empat macam pronominal.
1) Kata Ganti Diri
Kata ganti diri adlah pronominal yang menggantikan nomina orang atau yang diorangkan. Kata ganti diri dibedakan atas.
a) Kata ganti di orang pertama tunggal yaitu aku dan saya. Orang pertama jamak yaitu kami dan kita.
b) Kata ganti diri orang kedua tunggal, yaitu kamu dan engkau. Orang kedua jamak yaitu, kalian dan mereka.
c) Kata ganti diri orang ketiga tunggal yaitu ia, dia, dan nya. Orang ketiga jamak, yaitu mereka.
2) Kata Ganti Petunjuk
Kata ganti petunjuk atau pronominal demontratifa adalah kata ini dan itu yang digunakan untuk menggantikan nomina (frase nomina atau lainnya) sekaligus dengan penunjukan. Contoh, buku ini adalah buku impor. Buku itu belum saya baca.
3) Kata Ganti Tanya
Kata ganti Tanya atau pronominal interogatif adalah kata yang digunakan untuk bertanya ayau menanyakan sesuatu (nomina atau yang dianggap kontruksi nomina). Kata ganti Tanya itu adalah apa, siapa, kenapa, mengapa, bagaimana, dan mana.
4) Pronomina Tak Tentu
Pronomina tak tentu atau kata ganti tak tentu adalah kata-kata yang digunakan untuk menggantikan nomina yang tidak tentu. Yang termasuk kata ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, setiap orang, masing-masing, suatu, sesuatu, salah satu, beberapa dan sewaktu-waktu.
f. Numeralia (kata bilangan)
Numeralia adalah kategori yang dapat mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, mempunyai potensi untuk mendamingi numerelia lain, dan tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat.
Subkategorisasi
1. Numerelia takrif, yaitu numerelia yang menyatakan jumlah yang tenru. Golongan ini terdiri atas :
a) Numerelia utama (koordinat)
(1) bilangan penuh, adalah numerelia utama yang menyatakan jumlah tertentu. Contoh : satu, dua, puluh,ribu. Numerelia utama dapat dihubungkan langsung dengan satuan waktu, harga uang, ukuran panjang, berat, isi,dsb.
(2) bilangan pecahan, yaitu numerelia yang terdiri dari pembilang dan penyebut, yang diduduki partiker per, misalnya dua pertiga, lima perenam.
(3) bilangan gugus, contoh : likur. Bilangan antara 20 dan 30, misallnya : selikur=21, dualikur 22, lusin=12, gross=144.
b) Numerelia tingkat
Adalah numerilia takrif yang melambangka urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Numerelia. Ke- merupakan prefiks dan Num menyatakan numerelia bilangan. Contoh : - catatan kedua sudah diperbaiki
- Ia orang kedua di departemennya.
c) Numerelia kolektif
Adalah numerelia takrif yang berstruktur : Ke + Num, ber- + N , ber- +mr, ber - + Num R atau Num + - ar. Numerelia kolektif yang berstruktur Ke + Num tempatnya dalam frase selalu mendahului nomina. Contoh : dipandangnya kedua gadis itu dengan penuh keheranan.
2. Numerelia tak takrif
Numerelia tak takrif adalaah numerelia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya : suatu, beberapa, berbagai, pelbagai, tiap-tiap, sebagaian. Numerelia tidak pernah dibentuk dari kategori lain, tetapi dapat berpindah kelas menjadi verba seperti dalam mendua, persatuan, atau menjadi nomia seperti
kesatuan,persatuan,perduaan,pertigaan, perempatan.
3. Kata Bantu Bilangan
Kata bantu bilangan disenut juga kata penjodoh bilangan, atau kata penggolong bilangan adalah kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan di antara kata bilagan dengan nominanya. Misalnya, orang, ekor, helau butir dll.
g. Kata tugas
Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok:
1. preposisi (kata depan)
preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa. Secara simenatik preposisi ini menyatakan makna.
a) Tempat berada (di, pada, dalam, atas dan antara)
b) Arah Asal (dari)
c) Arah Tujuan (ke, kepada, akan dan terhadap)
d) Pelaku (oleh)
e) Alat (dengan dan berkat)
f) Perbandingan (daripada)
g) Hal atau masalah (tentang atau mengenai)
h) Akibat (hingga/sehingga atau sampai)
i) Tujuan (untuk, buat, guna dan bagi)
2. konjungsi (kata sambung)
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, frase dengan frase, antara kalusa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat. Dilihat dari tingkat kedudukannya dibedakan menjadi.
a) Konjungsi berkoordinasi
Konjungsi berkoordinasi adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara. Kemudian dilihat dari sifat hubungannya dikenal adanya konjungsi.
1) Menghubungka menjumlahkan (dan, dengan dan serta)
2) Menghubungkan memilih (atau)
3) Menghubungkan mempertentangkan (tetapi, namun, sedangkan dan sebaliknya)
4) Menghubungkan membetulkan (melainkan dan hanya)
5) Menghubungkan menegaskan (bahkan, malah/malahan, lagipula, apalagi dan jangankan)
6) Menghubungkan membatasi (kecuali dan hanya)
7) Menghubungakan mengurutkan (kemudian, lalu, selanjutnya dan setelah itu)
8) Menghubunglan menyamakan (yaitu, yakin, ialah, adalah dan bahwa)
b) Konjungsi subordinat
Konjungsi subordinat adalah konjugsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat. Konjungsi ini dibedakan oula atas konjungsi yang menghubungkannya.
1) Menghubungkan menyatakan sebab akibat (sebab atau karena)
2) Menghubungkan menyatakan persyaratan (kalau, jikalau, jika, bila, bilamana, apabila dan asal)
3) Menghubungkan menyatakan tujuan ( agar dan supaya)
4) Menghubungkan menyatakan waktu ( ketika, aewaktu, sebelum, sesudah, tatkala, sejak, sambil dan selama)
5) Menghubungkan menyatakan akibat (sampai, hingga dan sehingga)
6) Menghubungkan menyatakan batas kejadian ( sampai dan hingga)
7) Menghubungkan menyatakan tujuan atau sasaran ( untuk dan guna)
8) Menghubungkan menyatakan penegasan (meskipun begitu, biarpun, kendatipun, dan sekalipun)
9) Menghubungkan menyatakan pengandaian (seandainya dan andaikata)
10) Menghubungkan menyatakan perbandingan (seperti, sebagai dan laksana)
3. artikula (kata sandang)
Artikula adalah kata yang membatasi makna nomina. Dalam Bahasa Indonesia ada kelompok artikula, yaitu :
a) artikula yang bersifat gelar
Artikukla yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis-jenis artikula yang bersifat gelar :
1) sang : untuk menyatakan manusia atau benda unik dengan maksud meninggikan martabat;kadang-kadang juga dipakai dalam gurauan atau sindiran.
2) sri : untuk manusia yang memiliki martabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan.
3) hang : untuk laki-laki yang dihormati dan pemakaiaannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama.
4) dang :untuk wanita yang dihormati dan pemakaiaannya terbatas pada nama tokoh pada cerita sastra lama.
b) artikula yang mengacu makna kelompok
Atikula yang mengacu ke makna kelompok atau makna korelatif adalah para. Karena artikula ini mengisyaratkan ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah “para guru” dan bukan “para guru-guru”.
c) artikula yang menominalkan.
Artikula “si” yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, bergantung pada konteks kalimat. Contoh :
Si Amat akan meminag Si Halimah minggu depan.
Aduh, cantiknya si hitam manis itu.
4. interjeksi (kata seru)
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Secara stuktural, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, interjeksi ada yang berupa bentuk dasar dan ada yang berupa bentuk turunan. Berikut janis interjeksi dapat dikelompokan menurut perasaan yang diungkapkannya, sebagai berikut :
a) Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih, idih.
b) Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat.
c) Interjeksi kekaguman atau kepuasan : aduhai, amboi, asyik.
d) Interjeksi kesyukuran : syukur, alhamdulillah
e) Interjeksi harapan : insya allah.
f) Interjeksi keheranan : aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh, ah.
g) Interjeksi kekagetan : astaga, astagfirullah, masyaallah.
h) Interjeksi ajakan : ayo, mari.
i) Interjeksi panggilan : hai, be, eh, halo.
j) Interjeksi simpulan : nah.
5. Partikel.
Di samping kata-kata yang ternasuk kelas-kelas di atas ada pula sejumlah bntuk yang disini disebut partikel seperti kah, lah, pun dan per. Contoh:
Apakah isi lemari itu?
Siapakah namamu yang sebenarnya?
Ambillah mana yang kamu suka!
Saya tidak tahu, dia pun tidak.
Gaji kamu naik per satu April
Harganya Rp 1000 per lembar.
Senin, 07 Juni 2010
PENGHARGAAN DI PIALA DUNIA
Pada akhir setiap turnamen final Piala Dunia, beberapa penghargaan diberikan kepada pemain dan tim yang dianggap istimewa dibandingkan dengan yang lainnya berdasarkan aspek-aspek yang berbeda. Sat ini ada
· Sepatu Emas Adidas (Adidas Golden Shoe)
Penghargaan ini diperkenalkan sejak tahun 1982.
| Piala Dunia | Pemain | Jumlah gol |
| 8 | ||
| Edmund Conen (Jerman)
| 4 | |
| 8 | ||
| 9 | ||
| 11 | ||
| 13 | ||
| Garrincha (Brasil)
| 4 | |
| 9 | ||
| 10 | ||
| 7 | ||
| 6 | ||
| Pemenang Sepatu Emas adidas | ||
| | 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 8 | |
|
| 5 | |
· Bola Emas Adidas (Adidas Golden Ball)
FIFA mengumumkan 10 unggulan pemain terbaik yang dipilih oleh wakil-wakil dari media. Posisi pertama mendapatkan Bola Emas adidas, posisi kedua: Bola Perak adidas dan ketiga: Bola Perunggu adidas.
| Piala Dunia | Bola Emas Adidas | Bola Perak Adidas | Bola Perunggu Adidas |
|
|
| Karl-Heinz Rummenigge
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|
· Penghargaan Yashin (Yashin Award) untuk penjaga gawang terbaik
Penghargaan ini namanya berasal dari nama seorang penjaga gawang Rusia yang legendaris, Lev Yashin.
| Piala Dunia | Penerima |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
· Penghargaan Permainan Adil FIFA (FIFA Fair Play Award) untuk tim dengan catatan fair play terbaik;
Penghargaan ini hanya diberikan kepada tim-tim yang lolos ke babak kedua.
| Piala Dunia | Penerima |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
· Tim Paling Menghibur.
Penghargaan Tim Paling Menghibur ditentukan melalui polling dari publik.
| Piala Dunia | Tim Paling Menghibur |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
www.id.wikipedia.org










































