Selasa, 05 Oktober 2010
SERAJAH PERADABAN ISLAM (3)
A. Sekilas Tentang dunia Islam pada Abad Pertengahan
1. Kesultanan Usmani
Dinasti Usmani didirikan oleh Usman, putra Artogol dan Kabilah Oqhuz di daerah Mongol. Dibawah kepemimpinannya, wilayah kesultanan Usmani semakin luas dengan menaklukan wilayah Azmir (1327 M), Tharasyanli (1356 M), Iskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Galipoli (1356 M).Sedangkan pada tahun 1453 M dapat mengalahkan Byzantium dan Konstantinopel di bawah pimpinan Muhammad Al-Fatih. Beberapa kemajuan pada masa Kerajaan Usmani, Yaitu :
a. Pemerintahan dan Militer
Sistem pemerintahan telah berjalan dengan baik, dan kekuasaan militernya pun handal. Pada masa ini muncul kelompok elite militer yaitu Jannisary atau Inkrisyariyah yang merupakan kekuatan penghancur dan penakluk negeri-negeri non muslim.
b. Pengetahuan dan Budaya
Akulturasi budaya dari berbagai Negara, diantaranya Kebudayaan Persia, Byzantium dan Arab. Sedangkan ilmu pengetahuan yang menonjol adalah bidang arsitektur dan hiasan kaligrafi.
c. Agama
Kesadaran agama pada masa Kerajaan Usmani sangatlah kuat. Pada masa ini muncul dua aliran tarekat, yaitu Bektsyi dan Maulawiyah.
Berikut ini nama–nama 38 penguasa Kesultanan Usmani. Yaitu :
Periode Pertama
1) Usman I 1299-1324
2) Orkhan bin Usman 1324-1359
3) Murad bin Orkhan 1359-1389
4) Bayazid I bin Murad I 1389-1402
Periode Kedua
1) Muhammad I bin bayazid I 1403-1421
2) Murad II bin Muhammad I 1421-1451
3) Muhammad II al-Fatih bin Murad I 1451-1481
4) Bayazid II bin Muhammad II 1481-1512
5) Salim I bin Bayazid II 1512-1520
6) Sulaiman al-Qununi bin Salim I 1520-1566
Periode Ketiga
1) Salmi II bin Sulaiman I 1566-1574
2) Murad II bin Salim II 1574-1595
3) Muhammad II bin Murad III 1595-1603
4) Ahmad I bin Muhammad III 1603-1617
5) Mustafa I bin Muhammad III 1617-1618
6) Usman II bin Ahmad I 1618-1622
7) Mustafa I untuk yang ke-2 1622-1623
8) Murad IV bin Ahmad I 1623-1640
9) Ibrahin bin Ahmad I 1640-1648
10) Muhammad IV bin Ibrahin 1648-1687
11) Sulaiman II 1687-1691
12) Ahmad II bin Ibrahim 1691-1695
13) Mustafa II bin Muhammad IV 1695-1703
Periode Keempat
1) Ahmad III bin Muhammad IV 1703-1730
2) Mahmud I bin Mustafa II 1730-1754
3) Usman III bin Mustafa II 1754-1757
4) Mustafa II bin Ahmad III 1757-1774
5) Abdul Hamid I bin Ahmad III 1774-1789
6) Salim III bin Mustafa III 1789-1807
7) Mustafa IV bin Abdul Hamid I 1807-1808
8) Mahmud II bin Abdul Hamid I 1808-1839
Periode Kelima
1) Abdul Majid bin Mahmud II 1839-1861
2) Abdul Aziz bin Mahmud II 1861-1876
3) Murad V bin Abdul Majid 1876
4) Abdul Hamid III bin Abdul Majid 1876-1909
5) Muh. V Rasyad bin Abdul Majid 1909-1918
6) Muh. Wahiduddin bin Abdul Majid 1918-1922
7) Abdul Majid II sebagai khalifah 1922-1924
2. Kerajaan Safawi
Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail pada tahun 907 H/1500M. Syah Ismail berhasil menaklukan Irak, Turki, dan Baghdad. Ekspansi Syah Ismail didukung oleh pasukan Qizilbasi.
Pada masa Ismail (250-1524 M) mengukuhkan dirinya sebagai raja (syah), ia pun memproklamasikan Syiah Isra Asyariyah (dua belas) sebagai agama Negara. Namun, Persia sebelumnya berada di bawah kekuasaan Suni, Sehingga Syah Ismail harus mendatangkan Ulama Syiah dari wilayah lain yang kuat tradisi syiah nya seperti Irak, Bahrein, dan Libanon untuk mencapain tujuan yang dicita-citakannya ini.
Puncak keemasan Kerajaan Safawi terjadi pada masa kepemimpinan Syah Abbas (1588-1629 M)Syah Abbas berhasil memperluas wilayahnya ke Tabriz, Sirwan, Kepulauan Harmuz, dan pelabuhan Bandar Abbas. Beberapa kemajuan pada masa Kerajaan Safawi, yaitu :
a. Pemerintahan dan Politik
Struktur Organisasi pemerintahan Kerajaan Safawi secara administratif terbagi menjadi dua, yaitu horizontal dan vertikal. Secara horizontal berdasarkan kesukuan, sedangkan secara vertikal berdasarkan keistanaan (dargah) dan sekretariat Negara (divan atau mamalik)
b. Ekonomi
Adanya pelabuhan Bandar Abbas, pelabuhan menjadi ramai, sehingga Perdagangan semakin maju. Selain itu, juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama di daerah Bulan Sabit yang subur.
c. Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Syah Abbas I mendirikan lembaga Pendidikan syiah, yaitu untuk lebih memantapkan aliran Syiah yang diyakininya. Pada zaman ini muncul beberapa ilmuwan, sastrawan, dan sejarawan, diantaranya Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’I. Muhamad Baqir Astarabadi, Sadrudin Muhammad bin Ibrahim Syiraji, dan Muhammad Baqir Majlisi.
Sedangkan dibidang budaya banyak dibangun gedung-gedung yang megah dan indah, baik itu kantor, masjid, rumah sakit maupun jembatan raksasa. Dalam bidang seni banyak sekali menghasilkan kerajinan tangan, keramik, karpet, dan seni lukis.
3. Kerajaan Mogul
Kerajaan Mogul didirikan oleh Zahiruddin Babur (1428-1530 M). Ia berkuasa selama 30 tahun. Setelah wafat digantikan oleh anaknya Humayun, dan ia berkuasa selama 9 tahun. Kemudian Humayun digantikan oleh anaknya yaitu Akbar. Akbar memperluas ekspansi dengan menguasai daerah Chundar, Ghond, Ovisa, dan Asingah. Beberapa kemajuan pada masa Kerajan Mogul, yaitu :
a. Politik dan Ekonomi
Stabilitas politik yang aman dan pemerintahan yag stabil, membuat laju perekonomian dan pertanian pun maju. Contohnya biji-bijian dan sayuran serta hasil kerajinan pengolohan kain untuk pakaian maupun gordyn.
b. Seni dan Budaya
Dalam bidang kesenian yang paling menonjol adalah sastra gubahan penyair Istana, yaitu Malik Muhammad Jayadi dengan karyanya yang berjudul “padyamat”. Demikian juga pembangunan masjid indah dan megah seperti Taj Mahal.
Berikut ini daftar nama-nama para raja yang berjasa di keraajaan Mogul-India :
1) 1526-1530 Zahiruddin Muhammad Babur
2) 1530-1556 Humayun
3) 1605-1627 Akbar Syah
4) 1627-1658 Jahangir
5) 1658-1707 Syeh Jehan
6) 1707-1712 Aurangzeb (Alamgir)
7) 1712-1713 Bahadur Syah I
8) 1713-1719 Jihandar Syah
9) 1719-1748 Farruk Siyar
10) 1748-1754 Muhammad
11) 1754-1759 Ahmad
12) 1759-1806 Alam II
13) 1806-1837 Akbar II
14) 1837-1857 Bahdur Syah II
B. Perkembangan Kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan
1. Arsitektur
Aesitektur Islam adalah ilmu sekaligus seni mearancang bangunan ataupun struktur lain yang fungsional dan dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam yang bertolak dari pengkuan akan keesaan Allah SWT. Perkembangan arsitektur Islam pada jaman ini bisa dilihat dari berbagai karya mesjid megah atau bangunan bahkan kuburan yang dibangun pada masa ini.
Di Persia pada masa keemasan Dinasti Safawi di kota Isfhan telah dibangun Medjid Syah (sekarang Mesjid Iman), Mesjid Syeh Lutfullah, Istana Cehil Sutun (bahasa Persia:empat puluh tiang), jembatan Khaju,dan menara-menara goyang. Selain itu, di kota Masyhad terdapat makam Imam Ali Ar Rida. Tidak jauh dari makam itu berdiri sebuah Mesjid Imam Reza yang kubah Mesjidnya dihiasi berates-ratus kilogram emas murni.
Di India pada masa kejayaan Kerajaan Mogul telah dibangun bangunan-bangunan megah, seperti Istana di Delhi dan Lahore, Mesjid Jami di Aunfur, Benteng Merah, Char Minar (empat menara) yang dibangun tahun 1591 M, di Hyderabad, termasuk yang paling terkenal adalah Taj Mahal, mekam yang dipersembahkan untuk istri tercinta Sultan Sang Jehan.
Di Turki pada masa keemasan Kerajaan Ottoman telah dibangun mesjid-mesjid dengan gaya arsitektur yang tinggi dan menawan hati. Mesjid-mesjid seperti Mesjid Agung Sultan Muhammad Al Fatih, Mesjid Agung Sulaeman, Mesjid Bayazid, Mesjid Abu Ayub Al-Ansari yang terletak disebelah Mesjid Aya Sopia. Mesjid Aya Sopia adalah bangunan bekas gereja yang dirombak ulang, untuk menghilangkan gambar-gambar makhluk hidup dan diganti oleh kaligrafi-kaligrafi. Pada masa itu, untuk melaksanakan berbagai pembangunan, diserahkan kepada Sinan Pasya, salah satu arsitektur terkenal pada jamannya.
2. Seni Sastra
Seni sastra sebagai bagian dari kebudayaan terdapat pula diberbagai wilayah kerajaan islam pada abad pertengahan. Berikut sastrawan-sastrawan yang hidup di abad petenngahan.
a. Fariduddin Al-Attar (1119-1230 M)
Beliau lahir di Nisabur, timur laur Persia semasa mudanya beliau mengembara ke berbagai wilayah Islam seperti Mesir, Hedzjaz, India dan Asia Tengah, kemudian ia kembali ke tempat kelahirannya. Beliau menulis puisi dan tuah-tuah sufi (ahli tasawuf) selama 39 tahun. Karya Fariduddin Al Attar yang sangat terkenal adalah Mantiq At Tair (Musyawarah burung) sebuah sajak alegori yang mengisahkan pengalaman religious kaum sufi. Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa prancis dan inggris.
Buku karya lainnya adalah Tazkiratul Auliya. Buku ini disusun dalam bentuk prosa dengan maksud untuk mengenang para sufi pendahulunya. Buku lainnya Pend Namah (Buku Nasihat) dan sudah diterjemahkan dalam bahasa prancis.
b. Jalaluddin Ar Rumi (1207-1273 M)
Jalaluddin Ar-Rumi lahir di Afganistan pada 1207 M dan wafat di Turki pada tahun 1273 M. ia adalah keturunan sahabat Abu Bakar. Ia seorang penyair sufi terbesar pada masanya, dan mendapat gelas Maulana (Tuan Kami). Karya Jalaluddin Ar-Rumi antara lain.
1) Diwan Syams-I Tabriz, merupakan kumpulan puisi terdiri dari 33.000 bait yang kesemuanya dalam bentuk gazal sufi.
2) Matnawi, terdiri dari 6 jilid berisi 26.660 bait yang berisi “Akar-akar agama dan penemuan kegaiban-kegaiban alam dan pengetahuan ketuhanan” dan buku ini diselesaikan dalam waktu 10 tahun. Buku ini sudah diterjemahkan dan diberi komentar oleh Renold Alleyne Nicholson selama 25 tahun.
c. Sa’adi Syiraz (Wafat di Siraz antara tahun 1291 dan 1295 M)
Sa’adi Syiraz adalah sastrawan Persia yang karya tulisnya yang terpenting berjudul Bustan (Kebun Buah) dan Gulistan (Kebun Bunga). Gulistan ditulis dalam bentuk prosa dan berisi kisah-kisah, kata-kata mutiara, nasihat, renungan pribadi yang disana-sini berisi selingan puisi berisi anekdot, humor dan nasihat. Bustan, berisi kisah-kisah indah dan melukiskan nilai-nilai luhur Islam yakni kebenaran, keadilan, kerendahan hati, dan kebebasan. Dalam karya ini sa’adi adalah sebagai penyair, guru, dan sekaligus moralis.
d. Fuzuli (Wafat sekitar tahun 1556 M)
Adalah termasuk penyair terkenal dalam sejarah sastra Islam. Salah satu karyanya yang terkenal berbentuk puisi yang berjudul shikeyetname (Pengaduan). Fuzuli bertempat tinggal di Irak.
e. Amir Khusran (1253-1325 M)
Amir Khusraw merupakan seorang penyair dan serajawan. Beliau lahir di pataila, barat laut India. Karya-karyanya antara lain Qiranus sa’adian (Bertemunya dua binatang) bebentuk epos sejarah tentang kemenangan Giyasuddin Tughlak yang pernah mengambil alih kekuasaan terhadap kusraw khan.
SUMBER:
Afkar, abu.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (2)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
----------------.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (3)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
Sanaky,A.H. Hujair.2008.Peradaban Islam Masa Nabi[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Periode Klasik[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
Syamsuri.2004.Pendidikan Agama Islam untuk Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Tanpa Nama.2009.Sejarah Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan[download]. http://cafebelajar.com. 30 September 2010.
Tanpa Nama.2008. Perkembangan Islam pada Zaman Modern[download]. http://hbis.wordpress.com. 30 September 2010.
SERAJAH PERADABAN ISLAM (2)
1. Masa Khulafa al-Rasyidin
1. Abu Bakar As-Siddik (632-634 M)
Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah [pengganti Rasul] yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Abu Bakar menjadi khalifah di tahun 632 M dan usia kepemimpinannya hanya dua tahun, karena pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia. Masanya yang singkat itu banyak dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan atau sikap membangkan dari suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk pada pemerintahan Madinah.
Alasan yang sangat substansial dari sikap membangkan adalah mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad, dengan sendirinya tidak mengingat lagi dan batal, setelah Nabi wafat. Dengan dasar ini, maka mereka kemudian mengambil sikap menentang Abu Bakar, sebagai pemimpin umat Islam. Karena sikap membangkang, menentang dan keras kepala yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, maka Abu Bakar menyelesaikan persoalan tersebut dengan apa yang disebut Perang Riddah [perang melawan kemurtadan]. Dalam perang Riddah ini, Khalid bin al-Walid adalah jenderal yang banyak dalam mengatasi perang tersebut.
Setelah Abu Bakar, menyelesaikan persoalan dalam negeri, kemudian mulai mengirimkan kekuatan-kekuatan ke luar Arabia. Khalid bin al-Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai al-Hirah di tahun 634 M8. Ke Syria dikirim ekspediri di bawah pimpinan tiga jenderal yaitu Amr Bin al-Aas, Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurabbil bin Hasanah. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Kemudian untuk memperkuat tentara ini, Khalid bin al-Walid diperintahkan meninggalkan Irak, melalui gurun pasir yang jarang dilalui dan ia sampai ke Syria delapanbelas hari kemudian.
Pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam berada di Palestina, Irak dan kerajaan Hirah. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, maka ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat dan mengangkat Umar bin Khattab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut, diterima umat Islam dan secara beramairamai membaiat Umar bin Khattab untuk menjadi khalifah kedua.
2. Umar bin Khattab
Umar bin Khattab, menyebut dirinya sebagai khalifah Khalifati Rasulillah [pengganti dari pengganti Rasulullah]. Selain itu, Umar bin Khattab, juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin [Komandan orang-orang yang beriman]. Usaha-usaha yang telah dilakukan Abu Bakar dilanjutkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab.
Di zaman Umar bin Khattab, gelombang ekspansi [perluasan daerah kekuasaan dan dakwah] pertama terjadi yaitu ibu kora Syria Damaskus jatuh pada tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, maka seluruh daerah Syria jatuh di bawah kekuasaan dan dakwah Islam. Syria dijadikan sebagai basis, maka ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr bin ‘Aas dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi al-Waqqas. Iskandaria, ibu kota Mesir ditaklukkan dan jatuh di bawah kekuasaan Islam pada tahun 641 M. Kemudian al- Qadisiyah sebuah kota dekat Hirah di Iraq jatuh tahun 637 M dan dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain jatuh pada tahun itu juga dan pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasi. Dengan demikian, pada masa khalifah Umar bin Khattab, wilayah kekuasaan dan dakwah Islam telah meliputi Jazirah Arabiah, Palestina, Syria, Irak, Persia dan Mesir.
Pada zaman Umar bin Khattab, perluasan daerah dakwah terjadi dengan cepat, sehingga khalifah Umar bin Khattab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi, yaitu : Mekkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan system pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum12. Selain itu, Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah.
Periode pemerintahan Umar bin Khattab selama sepuluh tahun [13-23 H/634-644 M] dan masa jabatannya berakhir dengan kematian, karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah seorang budak dari Persia. Untuk menentukan penggantinya, Umar bin Khattab tidak menempuh jalan yang dilaukakn Abu Bakar. Umar bin Khattab, menunjuk enam orang sahabat, yaitu : [1] Usman, bin Affan [2] Ali bin Abi Thalib, [3] Thalhah, [4] Zubair, [5] Sa’ad bin Abi Waqqas, dan [6] Abdurrahman bin Auf, dan meminta mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Setelah Umar bin Khattab wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga, tentu saja melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali bin Abu Thalib.
3. Utsman bin Affan
Pemerintahan Usman bin Affan berlangsung selama 12 tahun dan terjadi perluasan wilayah kekuasaan dan dakwah sampai ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil disebut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.
Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, di kalangan umat Islam mulai terjadi perpecahan karena soal pemerintahan. Muncul perasaan tidak puas dan kecewa terhadap sistem pemerintahannya. Kepemimpinan Usman bin Affan memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar bin Khattab, hal ini mungkin disebabkan umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut.
Selain itu, salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah kebijakannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan bin Hakam dan dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar khalifah.
Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan dan harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri.
Akhirnya pada tahun 35 H/655 M, Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa terhadap kebijakan pemerintahannya dan sebagai penggantinya adalah Ali bin Abu Thalib. Jasa Khalifah Usman diantaranya membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Usman juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, mesjid-mesjid dan memperluas mesjid Nabi di Madinah.
4. Ali bin Abu Thalib
Setelah Usman bin Affan wafat, masyatakat Islam beramai-ramai membait Ali bin abu Thalib sebagai khalifah ke empat. Ali bin abu Thalib memerintah hanya enam tahun dan nasbinya sama dengan khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan yaitu mati terbunu. Selama masa pemerintahannya, Ali menghadapi berbagai tantangan dan pergolakan, sehingga pada masa pemerintahannya tidak ada masa sedikit pun yang dapat dikatakan stabil.
Setelah menduduki jabatan sebagai khalifah, Ali bin abu Tahlib, mulai memecat para gubernur yang diangkat oleh Usman. Ali, yakin bahwa pemberontakanpemberontakan yang terjadi karena keteledoran mereka. Selain itu, dia juga menarik kembali tanah yang dihadiakan Usman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan pada masa khalifah Umar bin Khattab.
Ali bin abu Thalib, mendapatkan tantangan dari pihak pendukung Usman Bin Affan, terutama Mu’awiah, Gubernur Damskus, dari golongan Talhah dan Zubeir di Mekkah dan dari kaum Khawarij. Ali bin abu Thalib, menghadapi penberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunu Usman bin Affan dan meraka menuntut bela terhadap darah Usman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin menghindari perang, sehingga Ali mengirimkan surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolah dan pertempuran kedua belah pihak tidak dapat dihindari. Berkobarkan pertempuran yang dahsat yang disebut dengan “Perang Jamal” (Perang Berunta) dan Aisyah (istri Nabi) terlibat dalam perang melawan Ali bin abu Thalib dengan menunggang unta. Ali bin abu Thalib berhasil mengalahkan lawannya, Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Kebijakan Ali bin abu Thalib, juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur Damaskus Mu’awiyah yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan mereka. Jadi, setelah Ali bin abu Thalib, berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, kemudian Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentaranya. Pasukan Ali bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin dan pertempuran tidak dapat dihindari. Pertempuran yang terjadi di sini antara Ali dengan Mu’awiyah dikenal dengan nama “perang shiffin”. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim tersebut ternyata tidak menyelesaikan persoalan, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu golongan al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin abu Thalib yang berbalik menentang Ali dan Mu’awiyah.
Diakhir ujung masa pemerintahan Ali bin abu Thalib, umat Islam terpacah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu : [1] golongan Mu’awiyah, [2] golongan Syi’ah (pengikut) Ali, dan [3] golongan al-Khawarij (kumpulan orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin abu Thalib). Tanpaknya keadaan ini tidak menguntungkan Ali bin abu Thalib, sebab pasukannya semakin lemah dan sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Maka pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M), Ali bin abu Thalib terbunu oleh salah seorang anggota Khawarij.
Kedudukan Ali bin abu Thalib sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Tetapi kedudukan Hasan-pun lemah, sementara Mu’awiyah semakin kuat dan akhirnya Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik di bawah Mu’awiyah bin abu Sufyan. Tetapi di sisi lain, perjanjian itu juga menguntungkan Mu’awiyah yang menyebabkannya menjadi seorang penguasa absolut dalam Islam. Maka tahun 41 H (661 M), tahun persatuan itu, dikenal dalam sejarah Islam sebagai tahun Jama’ah (‘am jama’ah). Dari sisi tercatat sebagai sejarah berakhirnya apa yang disebut dengan nama Khulafa’ur Rasyidin, dan kemudian sebagai awal dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.
2. Dinasti Ummayah
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah dalam bentuk yang berbeda dengan masa khulafah rasyidin. Pemerintahan yang bersifat demokratis pada masa khulafah rasyidin berubah menjadi monarchiheridetis [kerajaan turun temurun]. Artinya, ada perubahan pemikiran politik dalam sistem pemerintahan Islam. Sisi lain yang perlu dicermati adalah kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, tipu daya dan tidak melalui musyawarah dengan sistem pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyat untuk menyatakan setia terhadap anaknya Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi ala Persia dan Bizantium. Walaupun di satu sisi, Muawiyah tetap mempertahankan istilah khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Muawaiyah menyebutnya Khalifah Allah dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah adalah Muawiyah bin Abi Sufyan [661-680 M], Abd al-Malik bin Marwan [685-705 M], al-Walid bin Abdul Malik [705-715 M], Umar bin Abd al-Aziz [717 – 720 M], dan Hasyim bin Abd al-Malik [724 –743 M].
Pada masa Bani Umayyah, ekspansi dan dakwah Islam yang tehenti pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib, dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Perluasaan kekuasaan dan dakwah yang dilakukan dinasti Muawiyah, dimulai dari menguasai Tunisia, kemudian di disebelah timur, Muawiyah menguasai daerah Khurasan samapi ke sungai Oxus, Afganistan sampai ke Kabul, kota Bizantium dan Konstantinopel. Ekspansi ketimur kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik dengan menguasai Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand, bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekspansi dan dakwah Islam ke Barat dilakukan oleh al-Walid bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahan Walid merupakan masa ketenteraman, kemakmuran, ketertiban dan umat Islam merasa hidup bahagia. Masa pemerintahan walid berjalan kurang lebih sepuluh tahun dan tercatat suatu ekspediri militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa pada tahun 711 M. Maka setelah al-Jazair dan Marokko ditunduhkan, panglima perang Islam Tariq bin Ziyad menyebrangi selat antara Marokko dengan benua Eropa selat Gibraltar [Jabal Tarqi]. Tentara Spanyol dikalahkan dan Spanyol menjadi sasaran ekspansi dan dakwah Islam selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova dengan mudah dikuasai, kemudian menyusul kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova.
Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Di zaman Umar bin Abd al-Aziz, perluasan kekuasaan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee yang dipimpin oleh Rahman bin Abdullah al-Ghafiqi dan melanjutkan perluasan ke Bordeau, Poitiers. Dari sana al-Ghafiqi menyerang Tours, dan dalam pertempuran yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh dan pasukannya mundur ke Spanyol. Dengan keberhasil ekspansi dan dakwah Islam ke beberapa daerah, baik ditimur maupun barat, wilayah kekuasaan dan dakwah Islam pada masa Bani Umayyah sangat luas. Daerah-daerah kekuasaan dan dakwah Islam meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afhanistan, Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.
Pada masa Dinasti Bani Umayyah, selain perluasan kekuasaan dan dakwah, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyyah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan perlatannya di sepanjang jalan. Muawiyah juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim [qadhi – seorang spesialis dibidangnya] mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Abd al-Malik, mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Pada tahun 659, Abd al-Malik mencetak uang sendiri dengan menggunakan kata-kata dan tulisan Arab. Abd al-Malik, berhasil melakukan pembenahan adiministrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Al-Walid bin Abd al-Malik [705-715] [putra Abd al-Malik], berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Al-Walid bin Abd al-Malik, membangun panti-panti untuk orang catat dan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis ini digaji oleh negara secara tetap.
Al-Walid bin Abd al-Malik, juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintah dan mesjid-mesjid yang megah. Keberhasil banyak dicapai oleh Dinasti Bani Umayyah, tetapi hal ini tidak berarti persoalan politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Dalam perjalanan pemerintahan Muawiyah ada hal-hal yang tidak ditaati dalam isi perjanjian dengan Hasan bin Ali ketika Muawiyah akan naik tahta khalifah. Isi perjanjian tersebut adalah “persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam”.
Maka api politik semakin membara ketika Muawiyah mendeklarasikan pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota yang menyebabkan munculnya gerakangerakan oposisi di kalangan rakyat yang berakibat terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan. Analisis situasi politik. Sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepada Yazid bin Muawiyah ketika naik tahta sebagai khalifah. Kemudian Yazid bin Muawiyah mengambil sikap dengan mengirimkan surat perintah kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair sebagai lawan politik. Bersamaan dengan itu, Syi’ah [pengikut Ali] melakukan konsolidasi [penggabungan] kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husein bin Ali, maka pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekkah ke Kufah atar permintaan golongan Syi’ah yang ada di Irak, sebab umat Islam ini tidak mengakui Yazid sebagai khalifah. Kemudian mereka mengangkat Husein bin Ali sebagai khalifah. Akhirnya pertempuran antara kekuatan Yazid bin Muawiyah dengan Husein bin Ali tidak terelahkan dan dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela [sebuah daerah di dekat Kufah], tentara Husein mengalami kekalahan dan Husein sendiri mati terbunuh dan yang sangat menyedihkan kepala Husein dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Tanpaknya gerakan politik dan perlawanan orang-orang Syi’ah tidak padam dengan terbunuhnya Husein, tetapi gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras dan gigih dan tersebar luas. Banyak gerakan politik dan pemberontakan yang dipelopori kaum Syi’ah dan yang termashur di antaranya adalah pemberontakan Mukhtar di Kufa pada tahun 685-687 M. Mukhtar, mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali [umat Islam bukan Arab] yang berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain yang dianggap sebagai warga negara kelas dua pada Dinasti Bani Umayyah. Tetapi, Mukhtar sendiri terbunuh dalam melawan gerakan oposisi lainnya, gerakan Abdullah bin Zubair, namun di satu sisi bin Zubair juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah.
Gerakan politik dan perlawanan terhadap Bani Umayyah juga muncul dari gerakan oposisi di Mekkah yaitu Abdullah bin Zubair karena menolak sumpah setia pada Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Zubair, baru menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husein Bin Ali terbunu. Tentara Yazid, kemudian mengepung Mekkah dan dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun peperangan terhentiu karena khalifah Yazid wafat dan tentara Yazid ditarik kembali ke Damaskus. Kekuatan dan gerakan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa khalifah Abd al-Malik. Tentara Abd al-Malik dipimpin al-Hajjaj berangkat menuju Thaif kemudian ke Madinah dan meneruskan perjalanan ke Mekkah, Ka’bah diserbu dan keluarga bin Zubair dan sahabatnya melarikan diri, sementara bin Zubair melakukan perlawanan dan akhirnya mati terbunuh pada tahun 73 H – 692 M35.
Selain gerakan-gerakan di atas, gerakan-gerakan anarkis yang dilancarkan kelompok Khawarij dan Syi’ah juga selalu dapat diredamkan. Maka dengan keberhasilan memberantas gerakan-gerakan tersebut, membuat orientasi pemerintahan dinasti Bani Umayyah dirahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur [meliputi kota-kota di sekitas Asia Tengah] dan wilayah Afrika begian utara dan bahkan membuka jalan untuk menaklukan Spanyol. Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abd al-Aziz [717 – 720 M]. Ketika dinobatkan sebagai khalifah, Umar bin Abd al-Aziz menyatakan bahwa akan “memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik dari pada menambah perluasan wilayah”36. Hal ini menunjukkan bahwa khalifah Umar bin Abd al-Aziz menentukan sikap perioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskinpun masa pemerintahannya sangat singkat, tetapi Umar bin Abd al-Aziz berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Selain itu, Umar bin Abd al-Aziz juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak diperingan dan kedudukan kaum mawali disejajarkan dengan muslim Arab37.
Sepeninggal Umar bin Abd al-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid bin Abd al-Malik [720 – 742 M]. Khalifah Yazid bin Abd al-Malik, sangat gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat pada mada khalifah Umar bin Abd al-Aziz, hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, sedangkan pada zaman Yazid bin Abd al-Malik kedaan berubah menjadi kacau. Maka dengan latar belakang kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abd al-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah Hisyam bin Abd Malik [724 – 743 M]. Pada masa pemerintahan Hisyam bin Abd Malik sebagai emberio berakhirnya dinasti Bani Umayyah, karena muncul satu kekuatan baru dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali yang menjadi tantangan berat dan ancaman yang sangat serius. Maka, dalam perkembangan berikutnya kekuatan baru tersebut mampu menggulingkan dinasti Bani Umayyah dan menggantikannya dengan dinasti Bani Abbas.
Menurut sejarawan, bahwa sebenarnya Hisyam bin Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil, tetapi karane gerakan oposisi terlalu kuat sehingga khalifah tidak berdaya mematahkan gerakan-gerakan oposisi tersebut. Kemudian sepeninggal Hisyam bin Abd al-Malik, muncul khalifah-khalifah Bani Umayyah yang lemah dan juga bermoral buruk. Keadaan ini memperkuat gerakan-gerakan oposisi dan akhirnya pada tahun 750 M, daulat Bani Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani. Khalifah terakhir dari dinasti Bani Umayyah yaitu Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Mesir, kemudian ditangkap dan dibunuh di Mesir.
Dari perjelanan sejarah pemerintahan dan kekuasaan dinasti Bani Umayyah ini, ada beberapa faktor kelemahan yang menyebabkan dan membawa kehancuran dinasti tersebut. Faktor-faktor tersebut, antara lain : [1] Sistem pemerintahan khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan senioritas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah, menyababkan terjadinya persaingan tidak sehat di kalngan anggota keluarga istina. [2] Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak dapat dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali bin Abi Thalib. Siswa-siwa pengkut Ali [Syi’ah] dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah. [3] Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara [Bani Qays] dan Arabia Selatan [Bani Kalb] yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing. Perselihan suku-suku ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalan persatuan dan kesatuan. Selain itu, sebagian besar golongan mawali [non Arab], terutama di Irak dan wilayah begian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah. [4] Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana, sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Selain itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang. [5] Penyabab utama tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas bin Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
3. Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial , dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan pola politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia Pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki Pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M, masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia Kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M/ - 590 H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki Kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”.
Adapun kebijaksanaan para penguasa Daulah Abbasiyah periode 1 dalam menjalankan tugasnya lebih mengutamakan kepada pembangunan wilayah seperti: Khalifah tetap keturunan Arab, sedangkan menteri, gubernur, dan panglima perang diangkat dari keturunan bangsa Persia. Kota Bagdad sebagai ibukota, dijadikan kota internasional untuk segala kegiatan ekonomi dan sosial serta politik segala bangsa yang menganut berbagai keyakinan diizinkan bermukim di dalamnya, ada bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Hindi dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan Malawy yang memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam.
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam.bDinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.
Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786.
Saat itu, banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.
Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.
Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah.
SUMBER:
Afkar, abu.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (2)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
----------------.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (3)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
Sanaky,A.H. Hujair.2008.Peradaban Islam Masa Nabi[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Periode Klasik[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
Syamsuri.2004.Pendidikan Agama Islam untuk Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Tanpa Nama.2009.Sejarah Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan[download]. http://cafebelajar.com. 30 September 2010.
Tanpa Nama.2008. Perkembangan Islam pada Zaman Modern[download]. http://hbis.wordpress.com. 30 September 2010.
SEJARAH PERADABAN ISLAM (1)
I. Periode Peradaban Islam Periode nabi Muhammad SAW.
Menelusuri peradaban Islam tentu saja harus dimulai dari awal munculnya agama Islam pada masa Rasulullah SAW, karena disitulah pondasi seluruh nilai-nilai peradaban Islam. Pada masa kenabian Rasulullah SAW yang hanya 23 tahun ini, Rasulullah menanamkan seluruh nilai-nilai dan ajaran Islam baik yang bersifat individual dan sosial.
A. Periode Mekkah
Periode ini dimulai sejak Nabi Rasulullah mulai memulai dakwahnya, pertama secara diam-diam, hanya berdakwah ke keluarga, sahabat dekat dan orang-orang yang dekat dengan beliau. Sampai akhirnya, istrinya Siti Khadijah, sepupunya Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritha, dan Abu Bakar memeluk Islam. Lalu datanglah wahyu kedua yang meminta beliau untuk berdakwah secara terang-terangan.
Selama periode ini Rasulullah selalu mendapat tantangan, masalah dan yang sejenisnya, dari kaumnya sendiri. Tapi tak ada satupun yang berani menggangu Rasulullah secara langsung, karena beliau selalu berada dalam perlindungan paman tercinta, Abu Thalib. Tapi Abu Thalib sendiri mempunyai karakter yang khas, dia membenarkan Islam dan menyayangi serta melindungi Rasulullah, tetapi dia tidak pernah mengikuti apa yang dibelanya sampai dia meninggal. Baru setelah paman dan istrinya meningal, para penduduk kafir Quraisy mulai memberikan berbagai tekanan kepada Rasulullah. Untuk menghibur Rasulullah yang sedang bersedih hati, Allahpun mengijinkan beliau untuk bertemu langsung dengan-Nya. Kejadian ini bernama Isra Mi’raj.
Nabi Muhammad tak putus asa dalam menyerukan dakwah Islam, dan strategi dakwah mulai dilakukan “pada musim haji”. Rasulullah menyebarkan ajaran Islam ditengah-tengah jemaah haji dari berbagai macam suku Arab, tetapi ajaran tauhid masih menimbulkan ejekan dan hinaan dari mereka. Bagaimanapun juga keadaan membuktikan, bahwa Rasulullah mulai mengalihkan startegi dakwahnya dengan lebih baik untuk menyebarkan ajarannya ketika menjumpai sekelompok kecil dari jemaah haji yang berasal dari Yatsrib [yang kemudian disebut Madinah]. Penduduk kota ini terdiri dari bani Aws, bani Khazraj, suku Yahudi dari bani Quraisy dan Nadhir. Walaupun sudah lama terjadi permusuhan, mereka lebih dapat untuk memahami ajakan Rasulullah daripada menyembah berhala oleh penduduk Mekkah. Mereka memeluk agama Islam dan pulang ke negeri mereka sebagai missionaries atau juru dakwah Islam sehingga ajaran baru ini cepat tersebar dari rumah ke rumah bahkan dari suku ke suku yang lain.
Karena tekanan yang terus digencarkan oleh kaum Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk hijrah ke Yatsrib atau pada jaman sekarang lebih dikenal dengan kota Madinah. Maka berakhirlah periode Islam di Mekkah yang telah berjalan kurang lebih 13 tahun.
Selain itu, periode Mekkah lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai dasar Islam, sekaligus mengkoreksi nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat Quraisy. Sehingga kalau kita lihat dalam ayat-ayat Al-Quran periode Mekkah akan terlihat sekali bahwa kebanyakan ayat-ayat tersebut bertemakan hal-hal yaitu:
1. Tauhid
2. Hari Akhir
3. Mengkritik kecintaan kepada dunia (materialisme)
4. Pembelaan kepada kaum lemah (mustadh'afin) dan miskin
5. Akhlaq dasar Islam.
Berikut misalnya contoh ayat-ayat Makkiyah:
QS Al-Mudatsir:
1. Hai orang yang berkemul (berselimut), (QS. 74:1)
2. bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. 74:2)
3. dan Rabbmu agungkanlah, (QS. 74:3)
4. dan pakaianmu bersihkanlah, (QS. 74:4)
5. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, (QS. 74:5)
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (QS. 74:6)
7. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74:7)
8. Apabila ditiup sangkakala, (QS. 74:8)
9. maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, (QS. 74:9)
10. bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (QS. 74:1
QS Al-Ikhlas:
1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa". (QS. 112:1)
2. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. (QS. 112:2)
3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, (QS. 112:3)
4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. 112:4)
QS Al-Humazah
1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya , (QS. 104:2)
3. ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. (QS. 104:4)
5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (QS. 104:5)
QS Al-Maun:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (QS. 107:1)
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, (QS. 107:2)
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. 107:3)
Dari ayat-ayat tersebut terlihat bahwa Ayat-ayat Makkiyah ini bersifat lugas, singkat, tegas dan menggugah. Isinya berisi dasar-dasar nilai Islam, yaitu akidah dan akhlaq. Dalam bahasa sekarang barangkali pembentukan ideologi. Sedikit yang berisi aturan-aturan rinci.
Karena nilai-nilai yang ditawarkan Islam ini bersifat pembebasan (dari berhala dan tirani), dan emasipatif, maka pada periode ini dakwah Islam banyak menarik kelompok tertindas (mustadh'afin), meski di kalangan sosial atas juga ada (seperti Abu Bakar dan Usman). Di sisi lain, ditentang keras oleh kelompok elit dan status quo di Quraisy.
B. Periode Madinah
Pada masa ini Rasulullah sendiri yang memimpin umat, segala urusan umat semuanya atas kendali dan pantauannya. Selain sebagai pemimpin agama, Rasulullah juga sebagai kepala Negara, dengan sebuah masjid yang dia bangun pada tahun pertama di madinah pasca Hijrah sebagai pusat kegiatan umat .
Dakwah secara terang-terangan ini beliau lakukan setelah melihat keadaan umat Islam semakin kuat, Yatsrib/ Madinah sebagai ibu kota pemerintahan, pun juga menjadi tempat dimana kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar.
Tidak sulit bagi Rasulullah untuk memperluas dakwahnya, hanya dalam kurun waktu 10 tahun setelah dia wafat dia mampu memperluas dakwahnya sampai ke kawasan sebagaian besar Jazirah Arab.
Kesuksesan Rasulullah tidak hanya dalam masalah sosial, bahkan juga masalah ilmu pengetahuan. Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman umat , pada saat itu menjadi materi pokok dan menjadi bahan kajian intelektual umat. Bukan hanya itu, tradisi intelektual (tafaqquh) pada masa itu, juga berbentuk semacam institusi (lembaga) yang dikenal dengan “al-Suffah” dan komunitas intelektualnya disebut “ashhabussuffah”.
Dalam pemberdayaan umat , Rasulullah juga sempat membentuk undang-undang agar umat dapat hidup tentram, dan harmonis, antara kamu muslimin dan yang lain. Undang-undang madinah (Dusturul Madinah) atau biasa dikenal dengan Piagam Madinah sebelum terjadinya perang Badr (2 H/ 642 M). dengan kata lain, Nabi berusaha menciptakan system politik yang mapan yang akan menjamin kehidupan bersama .
Periode ini berlangsung selama sekitar 10 tahun. Berbeda dengan periode Mekkah, pada periode Madinah ini mulai dibangun sistem sosial kemasyarakatan, berdasarkan nilai-nilai yang telah ditanamkan di Makkah. Berbagai aturan yang rinci diperkenalkan.
Sebagai contoh, jika periode Makkah ditanamkan kecintaan kepada kelompok tertindas (sebagaimana ayat2 di atas), maka periode Madinah dibangun aturan penerapan cara menyantuni kelompok tertindas melalui ketentuan zakat, misalnya. Misalnya dalam ayat-ayat berikut:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu'allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:60)
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 9:103)
Pada periode ini, nilai-nilai ideal Islam diterapkan dalam masyarakat Madinah, inilah dasar peradaban Islam yang ideal. Kalau kita perhatikan maka peradaban Islam yang ingin dibangun Islam memiliki (paling tidak) beberapa sifat pokok, yang berbeda dengan masyarakat Quraisy:
1. Masyarakat Tauhid
Masyarakat Tauhid adalah masyarakat yang bergerak menuju dan berorientasi kepada ketundukan kepada Allah Yang Maha Esa. Ketundukan kepada Allah menjadi pengikat seluruh sekaligus puncak ketaatan. Masyarakat Tauhid menganggap hanya Allah SWT, dan perintahnya yang layak diterima tanpa reserve, sedang yang lainnya hanya diterima jika tidak bertentangan dengan prinsip pertama. Karenanya masyarakat tauhid adalah masyarakat yang meletakkan nilai spiritual pada tempat tertinggi, dan mendasari seluruh kehidupan.
2. Masyarakat berkeadilan, terbuka, egaliter dan emansipatif
Konsekuensi logis dari masyarakat Tauhid, adalah menganggap seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama (egaliter), bersikap adil kepada sesama, terbuka terhadap siapa saja untuk menerima sesuatu yang baik dan benar tanpa memandang latar belakang, sekaligus membebaskan (emansipatif) dari segala belenggu yang tidak perlu. Karena sikapnya yang seperti itu pada awalnya banyak sekali pengikut dari kalangan tertindas dan kelompok sosial ekonomi yang rendah.
3. Masyarakat berpegang pada hukum (syariah)
Dalam masyarakat yang dikembangkan oleh Rasululllah SAW, Hukum-hukum Allah diletakkan sebagai undang-undang dalam kehidupan (rule of law), mengalahkan seluruh kekuasaan, maupun kedudukan sosial. Semua orang memiliki hak dan kedudukan yang sama di hadapan hukum Allah, tidak ada beda antara kulit hitam dan kulit putih.
4. Masyarakat yang bersatu berdasarkan keimanan, bukan pada kelompok
Berbeda dengan masyarakat jahiliah yang menjadikan Kabilah/suku, menjadi pusat identitas dan keterikatan setiap individu, masyarakat Islam menjadikan keimanan sebagai basis keterikatan dan identitas.
Nilai-nilai dasar inilah, yang kemudian dikembangkan sepanjang sejarah peradaban Islam berikutnya.
SUMBER:
Afkar, abu.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (2)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
----------------.2007.Menelusuri derap Peradaban Islam (3)[download]. http://abuafkar.multiply.com. 1 Oktober 2010.
Sanaky,A.H. Hujair.2008.Peradaban Islam Masa Nabi[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Periode Klasik[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
-----------------.2008.Peradaban Islam Pada Abad Pertengahan[download]. http://sanaky.multiply.com. 30 September 2010.
Syamsuri.2004.Pendidikan Agama Islam untuk Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Tanpa Nama.2009.Sejarah Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan[download]. http://cafebelajar.com. 30 September 2010.
Tanpa Nama.2008. Perkembangan Islam pada Zaman Modern[download]. http://hbis.wordpress.com. 30 September 2010.
MAKALAH BENTUK DAN JENIS KATA
BENTUK DAN JENIS KATA
A. Bentuk Kata
1. Kata Dasar
Umumnya kata dasar dalam bahasa Indonesia, dan juga semua bahasa yang serumpun dengan bahasa Indonesia, terjadi dari dua suku kata; misalnya: rumah, lari, nasi, padi, pikul, jalan, tidur dan sebagainya. Seorang ahli bahasa Jerman, Otto von Dempwolff, dalam penelitiannya tentang bahasa Indonesia telah menetapkan dua macam pola susunan kata dasar dalam bahasa Indonesia. Pola itu disebutnya Pola Kanonik atau Pola Wajib , yaitu:
a. Pola Kanonik I: K-V-K-V, maksudnya tata susun bunyi yang membentuk suatu kata dasar terdiri dari: Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal, misalnya: padi, lari, paku, tiga, dada, dan sebagainya.
b. Pola Kanonik II: K-V-K-V-K, maksudnya di samping Pola Kanonik I kata-kata dasar Indonesia dapat juga tersusun dari Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal-Konsonan, misalnya: rumah, tanah, batang, sayap, larang, dan lain-lain.
Kita tidak menyangkal akan apa yang telah dikemukakan oleh von Dempwolff. Tetapi, andaikata kita menerima secara mutlak Pola Kanoniknya itu sebagai dasar yang absolut, maka bagaimana kita harus menerapkan kata-kata seperti tendang, banting, panggil, aku, api, anak, dan lain-lain? Berarti kita sekurang-kurangnya menambahkan beberapa macam rumus lagi agar bisa menampung semua kata dasar yang terdapat dalam bahasa Indonesia, misalnya: K-V-K-K-V-K, V-K-V-K, V-K-V. Dan semua rumus ini sekurang-kurangnya baru mengenai kata-kata dasar. Jika kita membahas kata-kata pada umumnya, tentu akan lebih banyak lagi.
Oleh karena itu kita mengambil suatu dasar lain yang lebih sempit yaitu berdasarkan suku kata ( silaba ). Bila kita berusaha untuk memecah-mecahkan kata dasar bahasa Indonesia menjadi sukukata-sukukata, maka kta akan sampai kepada satu kesimpulan bahwa ada tiga macam struktur sukukata dalam bahasa Indonesia yaitu: V, V-K, K-V , dan K-V-K . Dengan demikian kata-kata dasar dalam bahasa Indonesia dibentuk dari kemungkinan-kemungkinan gabungan dari ketiga jenis silaba itu, misalnya:
ru - mah (K-V + K-V-K)
ka - ta (K-V + K-V)
a - pa (V + K-V)
lem - but (K-V-K + K-V-K)
na - ik (K-V + V-K)
a - ir (V + V-K) dan lain-lain.
2. Kata Turunan
Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (atau akhiran).
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian.
a. Bentuk Kata Ulang
Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.
1) Kata ulang penuh atau kata ulang murni, yaitu semua kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh.
Misalnya: rumah-rumah, sakit-sakit.
2) Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, yaitu semua kata ulang yang salah satu unsurnya berimbuan: awalan, sisipan, atau akhiran. Misalnya: berjalan-jalan, turun-temurun, tanam-tanaman.
3) Kata ulang berubah bunyi, yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang.
Misalnya: bolak-balik, serba-serbi.
4) Kata ulang semu, yaitu kata yang hanya dijumpai dalam bentuk ulang itu. Jika tidak diulang, komponennya tidak memunyai makna atau bisa juga memunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan kata ulang tersebut.
Misalnya: hati-hati, tiba-tiba, kunang-kunang.
5) Kata ulang dwipurwa, yang berarti "dahulu dua" atau kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Kata ulang ini disebut juga reduplikasi, yang berasal dari bahasa Inggris "reduplication" yang berarti perulangan. Sebenarnya semua kata ulang juga dapat disebut reduplikasi.
Misalnya: lelaki, tetua.
b. Makna dan Fungsi Kata Ulang
1) Perulangan kata benda
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata benda.
a) Menyatakan benda itu bermacam-macam. Misalnya: buah-buahan, sayur-sayuran.
b) Menyatakan benda yang menyerupai bentuk dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
2) Perulangan kata kerja
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata kerja.
a) Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali. Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
b) Menyatakan aspek duratif, yaitu proses pekerjaan, pembuatan, atau keadaan yang berlangsung lama.
Misalnya: berenang-renang, duduk-duduk.
c) Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.Misalnya: cetak-mencetak, karang-mengarang.
d) Menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh dua belah pikak atau berbalasan. Misalnya: tembak-menembak, tuduh-menuduh
3) Perulangan kata sifat
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata sifat.
a) Menyatakan makna lebih (intensitas). Misalnya: Berjalan cepat-cepat! Kerjakan baik-baik!
b) Menyatakan makna sampai atau pernah. Misalnya: Tak sembuh-sembuh sakitnya walaupun ia sudah berobat ke luar negeri (tak pernah sembuh). Habis-habisan ia berbelanja (sampai habis). Digabungkan dengan awalan se- dan akhiran -nya mengandung makna superlatif (paling).
Misalnya: Kerjakan sebaik-baiknya agar hasilnya memuaskan. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya.
c) Berlawanan dengan makna nomor satu atau melemahkan arti kata sifat itu. Misalnya: Badanku sakit-sakit saja rasanya. (sakit di sana-sini, tapi tidak terlalu sakit) Kalau kepalamu pening-pening, bawalah tidur. (agak pening; pening sedikit)
d) Bentuk yang seolah-olah sudah mejadi ungkapan dalam bahasa Indonesia, makna perulangannya kurang jelas.
Misalnya: Jangan menakut-nakuti anak-anak karena akan memengaruhi jiwanya kelak.
4) Perulangan kata bilangan
a) Perulangan kata satu menjadi satu-satu memberi makna "satu demi satu". Misalnya: Peserta ujian masuk ruangan itu satu-satu.
b) Perulangan kata satu dengan tambahan akhiran -nya memberi makna "hanya satu itu". Misalnya: Ini anak saya satu-satunya.
c) Perulangan kata dua-dua, tiga-tiga, dst. memberi pengertian "sekaligus dua, tiga, dst.". Misalnya: Jangan masuk dua-dua karena pintu itu tidak lebar.
d) Bentuk perulangan berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, dst. menyatakan makna "kelipatan sepuluh, seratus, seribu, dst.. Misalnya: Beribu-ribu orang yang mati dalam peperangan itu.Bentuk perulangan kata bilangan dengan awalan ber-, saat ini sering diganti dengan bentukan dengan akhiran -an. Misalnya: berpuluh-puluh menjadi puluhan.
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru. Kata majemuk adalah gabungan 2 kata atau lebih yang memiliki struktur tetap, tidak dapat di sisipi kata lain. Contohnya Meja makan. Gabungan kata di atas termasuk contoh kata majemuk karena strukturnya tetap, tidak dapat diubah-ubah letaknya.
Contohnya : makan meja (tidak logis). Kemudian, gabungan kata tersebut tidak dapat disisipi oleh kata lain, misal ontohnya Meja (yang) makan (tidak logis). Meja (sedang) makan (tidak logis)
Selain itu, ciri lain dari kata majemuk adalah gabungan kata tersebut membentuk makna baru. Namun, makna baru tersebut masih dapat dirunut atau ditelusuri dari makna kata pembentuknya. Contohnya :
- Rumah baru (a)
- Tono sakit (b)
- Rumah sakit (c)
B. Jenis Kata
1. Penggolongan Kata Secara Tradisional
Tardjan Hadidjaja (1965:53-99) dalam bukunya Tatabahasa Indonesia cetakan keempat. menggolongkan kata menjadi seuluh. Kesepuluh jenis atau golongan tersebut ialah:
a. Kata Benda
Kata benda ialah kata-kata yang menyatakan benda. Kata benda dapat dibedakan berdasarkan:
1) Bentuknya.
Menurut bentuknya, kata benda dapat dibedakan menjadi: a) kata benda kata asal, seperti: hati, orang, rakit; b) kata benda kata majernuk, seperti: burung kakak tua, Lautan Teduh; c) kata benda kata berulang, seperti: tengah-tengahnya, batang-batang; dan d) kata benda kata bersambung, seperti: keadaan, lautan, pikiran.
2) Keadaannya
Menurut kedaannya, kata benda ddapat dibedakan menjadi dua yaitu: a) kata benda kongkrit yaitu kata benda yang menyatakan bahwa benda-bendanya itu memang benar-benar ada, seperti: orang, burung, buku pelajaran, dan yang menyatakan benda khayal, seperti: hantu, pelesit, bidadari, dan b) kata benda abstrak yaitu kata yang menyatakan nama benda yang hanya dapat difahami oleh pikiran akan peri adanya itu, seperti: ilham, angan-angan, perdamaian.
3) Artinya
Menurut artinya, kata benda dapat dibagi menjadi: a) kata benda nama jenis, seperti: rumah, daun, matahari; b) nama diri, seperti: Leutan Teduh, Torstein; c) kata benda nama zat, seperti: air, angin dan d) kata benda nama kumpulan, seperti: berkas, rumpun, kelompok.
b. Kata Kerja
Kata kerja dapat dibagi bermacam-macam, bergantung dari segi tinjaunya. Untuk menggolongkan kata kerja dapat ditinjau dari:
1) Bentuknya
Menurut bentuknya, kata kerja dapat dibedakan menjadi empat yaitu: a) kata kerja kata asal, seperti: hendak, jatuh; b) kata kerja kata majemuk, seperti: turun naik, ditandatangani, c) kata kerja kata berulang, seperti: Berkejar-kejaran; dan d) kata kerja bersambungan, seperti: menghadapi, terdorong.
2) Hubungannya
Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja digolongkannya mnjadi dua, yaitu:
a) Kata keja bentuk tindak, ialah apabila pokok itu bertindak yakni melakukan atau
mengenakan pekerjaan, seperti: duduk, turun naik, berlari-lari, berjual-beli;
b) Kata kerja bentuk taggap ialah. apabila pokok itu menanggapi yakni diberlakukan atau dikenai pekerjaan, seperti: dipukul, dipukul mundur, terjerumus, tertunda-tunda.
c. Kata Ganti
Kata ganti ialah perkataan yang akan menjadi pengganti nama orang atau nama benda. Jenisnya dapat dibedakan:
1) Kata ganti orang, yang dapat dibedakan lagi menjadi: a) kata ganti orang kesatu (tunggal atau rufrad dan jamak). contohnya: aku, hamba, kami; b) kata ganti orang kedua (tunggal atau mufrad dan jarak), contohnya: engkau, kalian, kamu; c) kata ganti orang ketiga (mufrad dan jamak), contohnya: ia,dia, mereka.
2) Kata ganti pemilik, yang dapat dibedakan mejadi: a) kata ganti pemilik kesatu (mufrad dan jamak), contoh: aku, kami, kalian; b) kata ganti pemilik kedua (mufrad dan jamak), contohnya: tuan, mu, kamu; dan c) kata ganti pemilik tiga (mufrad dan jamak), seperti: nya, mereka
3) Kata ganti penanya, seperti: apa, siapa;
4) Kata ganti penunjuk, seperti: ini dan itu;
5) Kata ganti penghubung ialah kata yang.
d. Kata Bilangan
Kata bilangan dapat digolongkan dengan segi tinjau:
1) Bentuk
Berdasarkan bentuknya, kata bilangan dapat dibedakan menjadi: a) bentuk kata asal, sererti: tujuh, banyak; b) Bentuk kata majemuk, seperti: dua tiga hari, seorang dua; dan c) bantuk kata berulang, seperti: tiga-tiga, dua-dua;
2) Artinya
Menurut artinya kata bilangan dapat dibedakan atas: a) Kata bilangan pokok, yang terdiri lagi atas: (1)kata bilangan pokok yang tertentu, satu, dua tiga; (2) kata bilangan pokok yang tak tentu, seperti: semua, segala, tiaptiap; b) Kata bilangan tingkat, yang dapat dibedakan lagi menjadi: (1) kata bilangan tingkat yang tentu, misalnya: kesatu, kedua dan (2) kata bilangan yang tak tentu, Seperti: kesekian. c) Kata bilangan pecahan, seperti: sepertiga, seperempat.
e. Kata Sifat
Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan sesuatu benda. Berdasarkan bentuknya, kata sifat dapat dibedakan menjadi: a) kata sifat bentuk kata asal, seperti: besar, lebar; b) kata sifat bentuk kata majemuk, seperti: merah putih, gagah berani, dan c) kata sifat bentuk berulang, seperti: tegap-tegap, besar-besar, serta d) kata sifat bentuk bersambungan, sererti: berbau, meluas, kemerah-merahan.
f. Kata Tambahan
Kata tambahan ialah kata-kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata-kata yang bukan kata benda. Golongan ini dapat dibedakan menjadi:
1) penunjuk waktu, seperti: pagi-pagi, baru, setelah;
2) penunjuk tempat, seperti: di sini, di atas, ke sana;
3) penunjuk peri keaadaan, seperti: beribahati, sungguh-sungguh;
4) penunjuk banyak dan taraf ketandasan, seperi: terlalu, semata-mata, hanya, agak; dan
5) penunjuk taraf kepastian, yang dapat dibedakar lagi menjadi: (a) kepastian, seperti: pasti, sungguh (b) kemungkinan, seperti: mungkin, barangkali, (c) pengharapan dan permintaan, seperti: semoga, mudah-mudahan, dan (d) ingkar, seperti: tidak, jangan.
g. Kata Depan
Kata Depan menurut definisi tradisional adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian-bagian kalimat. Kata-kata Depan yang terpenting dalam bahasa Indonesia ialah:
1) Di, Ke, Dari: ketiga macam kata depan ini dipergunakan untuk merangkaikan kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat.
2) Pada: bagi kata-kata yang menyatakan orang, nama orang atau nama binatang, nama waktu atau kiasan dipergunakan kata pada untuk menggantikan di, atau kata-kata depan lain yang digabungkan dengan pada seperti daripada, kepada.
3) Selain daripada itu terdapat Kata Depan yang lain, seperti: di mana, di sini, di situ, akan, oleh, dalam, atas, demi, guna, untuk, buat, berkat, terhadap, antara, tentang, hingga, dan lain-lain. Di samping itu ada beberapa Kata Kerja yang dipakai pula sebagai kata depan, yaitu: menurut, menghadap, mendapatkan, melalui, menuju, menjelang, sampai.
h. Kata Penghubung
Kata penghubung ialah kata-kata yang gunanya untuk menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan yang mendahuluinya atau sebuah kalimat dengan kalimat yang mendahuluinya. Menurut artinya, kata ini dapat dibedakan menjadi:
1) kata penghubung penunjuk gabungan, seperti: serta, dan, lagi pula;
2) kata penghuhung pengantar penunjuk waktu, seperti: waktu, ketika, setelah, sementara;
3) kata penghubung penunjuk maksud atau tujuan, seperti: agar, supaya, biar.
4) kata penghubung penunjuk perlawanan, seperti: tetapi, akan tetapi, melainkan;
5) kata penghubung penunjuk sebab atau akibat, seperti: sebab, karena, sampai;
6) kata penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau peryataan mengalah, seperti: biar,biarpun, walau, biar sekalipun; dan
7) kata penghubung penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa (yang).
i. Kata Sandang
Kata sandang ialah kata yang gunanya untuk menegaskan kata yang berikutnya yang disandanginya, hingga kata-kata itu mempunyai arti yang tentu, tersekat dari nada yang lain—lain. Menurut fungsinya, kata sandang dapat dibedakan menjadi: 1) kata sandang pembentuk kata benda, Yang kurap, si Cebol, Merah putih; 2) untuk mengeraskan arti, menyekat, atau menceraikan kata benda daripada yang lain-lain, seperti: kembalikan saja kepada si pengirim, saya sendiri menjemputmu kemarin; 3) untuk menghormat, seperti.: sang Bangsawan, sang Ibu; dan 4) untuk menyekat atau menceraikan sesuatu dan kelornpok atau “dunianya’, seperti: sebuah kursi, seekor kambing.
j. Kata Seru.
Kata seru ialah kata-kata yang gunanya hanya untuk “melepaskan” perasaan, keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja, seolah-olah terlompat begitu saja dari mulut. Menurut sifatnya, kate seru dapat dibedakan menjadi:
1) kata seru sejati, aduh, amboi, wahai;
2) kata seru tiruan bunyi, seperti: ciap, meong, das
3) kata seru yang terjadi dan kata-kata biasa, seperti:kasihan, inalillahi, saying.
Selain itu, kata seru pun dapat dibedakan menurut maksudnya yaitu:
1) penyeru biasa, seperti: hai nenekku;
2) kata seru yang menyataka kata heran, seerti: wah;
3) kata seru yang menyataken rase sakit atau terancam behaya, seperti: aduh
4) kata seru yang menyatakan rasa iba atau sedih, seperti: kasihan, amboi
5) kata seru yang menyatakan kecewa, seperti: saying, celaka;
6) kata seru yang menyatakar kaget bercampur sedih, seperti: masyaallah;
7) kata seru menyetakan rasa lega, sererti: alhamdulillah;
8) kata seru yang menyatakan jijik, seperti: cih, cis.
2. Penggolongan Secara Non-Tradisional
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh kategori, yaitu:
a. Nomina (kata benda)
Nomina adalah kategori yang secara sintaksis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak. Kedua, mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Ketiga, tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (lebih, sangat dan paling). Keempat, tidak dapat didahului oleh adverbia keharusan wajib. Kelima, dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti satu, sebuah, sebatang dan sebagainya. Ada beberapa jenis nomina yaitu :
1) nomina dasar
contoh : batu,radio,kertas,udara
2) nomina turunan
a) nomina berafiks : keuangan, perpaduan
b) nomina reduplikasi :tetamu, rumah-rumah
c) nomina hasil gabungan proses : batu-batuan, kesinambungan.
d) nomina yang berasal dari berbagai kelas karena proses :
(1) deverbaliasi : pemandian, kebersamaan
(2) deakjitivalisasi : ketinggian, leluhur
(3) deaverbalisasi : kelebihan, keterlaluan.
(4) Penggabungan : jatuhnya, tridurnya.
b. Verba (kata kerja)
Kita harus menyadari bahwa dalam bahasa Indonesia ada dua dasar yang dipakai dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena memiliki makna, dan bentuk dasar dasar yang berafiks atau turunan. Kata verba sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa. Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbia frekeunsi, seperti sering, jarang, kadang-kadang, atau selalu. Ketiga, tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya, misalnya sebutir, sebatang dll. Keempat, didampingi oleh semua adverbia jumlah, seperti sedikit, kurang atau cukup.
Kelima, dapat didampingi oleh semua adverbia kala, seperti sudah, sedang atau akan. Keenam, dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian, seperti belum, baru atau sedang. Ketujuh, dapat didampingi oleh semua adverbia keharusan, seperti boleh atau wajib. Kedelapan, dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian, seperti pasti, tentu atau mungkin.
Dari bentuknya verba dapat dibedakan menjadi :
1) verba dasar bebas
Verba dasar yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Contohnya : duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang,dll.
2) verba turunan
Verba turunan yaitu verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Sebagai bentuk turunan dapat kita jumpai :
a) verba berafiks
contohnya : ajari, bernyanyi, bertaburan, bersentuhan, ditulis, jahitkan, kematian, melahirkan, menari, menguliti, menjalani, kehilangan, berbuat, terpikirkan.
b) verba bereduplikasi
contohnya : bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan.
c) verba berproses gabungan
contohnya : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, terbayang-bayang.
d) verba majemuk
contoh : cuci mata, campur tangan, unjuk gigi.
Lalu, dalam kedudukannya sebagai predikat dapat dibedakan menjadi
1) Verba transitif (membunuh),
2) Verba kerja intransitif (meninggal).
c. Adjektiva (kata sifat)
Adjektiva atau kata sifat berfungsi untuk menerangkan kata benda, seperti kopi panas dan lain sebagainya. Selain itu kata sifat juga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, tidak dapat didampingi oleh adverbia frekeunsi sering, jarang dan kadang-kadang. Kedua, tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah, seperti banyak atau sedikit. Ketiga, dapat didampingi oleh semua adverbia derajat, misalnya agak, lebih dan lain sebagainya. Keempat, dapat didampingi oleh adverbia kepastian, misalnya pasti, tentu dan lain sebagainya. Kelima, tidak dapat diberi adverbia kala hendak atau mau.
1) Adjektiva dasar
Adjektiva dasar yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Contohnya : bagus, jelek, besar, kecil,dll.
2) Adjektiva turunan
a) Adjektiva turunan berafiks, misalnya terhorma.
b) Adjektiva turunan bereduplikasi, misalnya muda-muda, gagah-gagah.
c) Adjektiva berafiks ke-an, misalnya kesakitan, kesepian.
d) Adjektiva berafiks –i, misalnya duniawi, alami, hewani.
e) Adjektiva yang berasal dari berbagai kelas dengan proses-proses berikut :
(1) Deverbalisasi, misalnya Melengking, menyenangkan
(2) Denominalisasi, misalnya berakar, beranfaat
(3) De-adverbalisasi, misalnya berkurang, bertambahkan.
(4) Denumeralia, misalnya mendua.
(5) De-interjeksi, misalnya aduhai, sip, wah.
3) Adjektiva Majemuk
a) subordinatif :
buta warna - panjang akal
besar mulut - terang hati
b) koordinatif :
aman sentosa - lemah lembut
besar kecil - suka duka
d. Adverbia (kata keterangan)
Dalam berbagai buku tata bahasa sekolah, adverbia lebih dikenal dengan kata keterangan. Fungsinya adalah menerangkan kata kerja , kata sifat, dan jenis kata yang lainnya.
1) Adverbia dalam bentuk dasar bebas. Contoh : Alangkah, Agak,Bisa, Hampir, Masih, Memang, Paling, Nian, Niscaya, Sangat, dll.
2) Adverbia turunan, terbagi atas :
a) adverbia turunan yang tidak berpindah kelas kata terdiri dari :
(1) adverbia bereduplikasi. Contoh : agak-agak, bisa-bisa, jangan-jangan, rada-rada.
(2) adverbia gabungan .Contoh : belum boleh, tidak boleh, tidak mungkin lagi, belum tentu.
b) Adverbia turunan yang berasal dari berbagai kelas kata, terdiri dari :
(1) Adverbia berafiks, yaitu dengan prefiks ter- .Contoh : terlalu, dan terlampau.
(2) Adverbia dari kategori lain karena reduplikasi.
(a) denominal : akhir-akhir, malam-malam, malu-malu, pagi-pagi.
(b) Depronominal : sendiri-sendiri.
(c) Adverbia de-ajektiva : awas-awas, baik-baik, benar-benar.
(d) Adverbia denumerelia : sedikit-sedikit, dua-dua.
(e) Adverbia deverbal : kira-kira, tahu-tahu.
3) Adverbia yang terjadi dari gabungan kategori lain dan pronomina
A + -nya :agaknya, harusnya
N + -nya : rasanya, rupanya
V + -nya : hendaknya, kiranya
A +-nya : biasanya, layaknya
Num + -nya : seluruhnya, biasanya
4) Adverbia deverbal gabungan.
Misalnya : mau tak mau, masih belum juga, tidak trkatakan lagi.
5) Adverbia de-akjetiva gabungan
Misalnya : tidak jarang, tidak lebih, terlebih lagi, kerap kali, acap kali
6) Gabungan proses
Se- + A + -nya : sebaiknya, sebenarnya, sesungguhnya.
Se- + V + -nya : senarusnya, sedapatnya.
e. Pronomina (kata ganti)
Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina. Apa yang digantikannya itu disebut antiseden. Secara umum lazim dibedakan adanya empat macam pronominal.
1) Kata Ganti Diri
Kata ganti diri adlah pronominal yang menggantikan nomina orang atau yang diorangkan. Kata ganti diri dibedakan atas.
a) Kata ganti di orang pertama tunggal yaitu aku dan saya. Orang pertama jamak yaitu kami dan kita.
b) Kata ganti diri orang kedua tunggal, yaitu kamu dan engkau. Orang kedua jamak yaitu, kalian dan mereka.
c) Kata ganti diri orang ketiga tunggal yaitu ia, dia, dan nya. Orang ketiga jamak, yaitu mereka.
2) Kata Ganti Petunjuk
Kata ganti petunjuk atau pronominal demontratifa adalah kata ini dan itu yang digunakan untuk menggantikan nomina (frase nomina atau lainnya) sekaligus dengan penunjukan. Contoh, buku ini adalah buku impor. Buku itu belum saya baca.
3) Kata Ganti Tanya
Kata ganti Tanya atau pronominal interogatif adalah kata yang digunakan untuk bertanya ayau menanyakan sesuatu (nomina atau yang dianggap kontruksi nomina). Kata ganti Tanya itu adalah apa, siapa, kenapa, mengapa, bagaimana, dan mana.
4) Pronomina Tak Tentu
Pronomina tak tentu atau kata ganti tak tentu adalah kata-kata yang digunakan untuk menggantikan nomina yang tidak tentu. Yang termasuk kata ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, setiap orang, masing-masing, suatu, sesuatu, salah satu, beberapa dan sewaktu-waktu.
f. Numeralia (kata bilangan)
Numeralia adalah kategori yang dapat mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, mempunyai potensi untuk mendamingi numerelia lain, dan tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat.
Subkategorisasi
1. Numerelia takrif, yaitu numerelia yang menyatakan jumlah yang tenru. Golongan ini terdiri atas :
a) Numerelia utama (koordinat)
(1) bilangan penuh, adalah numerelia utama yang menyatakan jumlah tertentu. Contoh : satu, dua, puluh,ribu. Numerelia utama dapat dihubungkan langsung dengan satuan waktu, harga uang, ukuran panjang, berat, isi,dsb.
(2) bilangan pecahan, yaitu numerelia yang terdiri dari pembilang dan penyebut, yang diduduki partiker per, misalnya dua pertiga, lima perenam.
(3) bilangan gugus, contoh : likur. Bilangan antara 20 dan 30, misallnya : selikur=21, dualikur 22, lusin=12, gross=144.
b) Numerelia tingkat
Adalah numerilia takrif yang melambangka urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Numerelia. Ke- merupakan prefiks dan Num menyatakan numerelia bilangan. Contoh : - catatan kedua sudah diperbaiki
- Ia orang kedua di departemennya.
c) Numerelia kolektif
Adalah numerelia takrif yang berstruktur : Ke + Num, ber- + N , ber- +mr, ber - + Num R atau Num + - ar. Numerelia kolektif yang berstruktur Ke + Num tempatnya dalam frase selalu mendahului nomina. Contoh : dipandangnya kedua gadis itu dengan penuh keheranan.
2. Numerelia tak takrif
Numerelia tak takrif adalaah numerelia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya : suatu, beberapa, berbagai, pelbagai, tiap-tiap, sebagaian. Numerelia tidak pernah dibentuk dari kategori lain, tetapi dapat berpindah kelas menjadi verba seperti dalam mendua, persatuan, atau menjadi nomia seperti
kesatuan,persatuan,perduaan,pertigaan, perempatan.
3. Kata Bantu Bilangan
Kata bantu bilangan disenut juga kata penjodoh bilangan, atau kata penggolong bilangan adalah kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal nomina tertentu dan ditempatkan di antara kata bilagan dengan nominanya. Misalnya, orang, ekor, helau butir dll.
g. Kata tugas
Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok:
1. preposisi (kata depan)
preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa. Secara simenatik preposisi ini menyatakan makna.
a) Tempat berada (di, pada, dalam, atas dan antara)
b) Arah Asal (dari)
c) Arah Tujuan (ke, kepada, akan dan terhadap)
d) Pelaku (oleh)
e) Alat (dengan dan berkat)
f) Perbandingan (daripada)
g) Hal atau masalah (tentang atau mengenai)
h) Akibat (hingga/sehingga atau sampai)
i) Tujuan (untuk, buat, guna dan bagi)
2. konjungsi (kata sambung)
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, frase dengan frase, antara kalusa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat. Dilihat dari tingkat kedudukannya dibedakan menjadi.
a) Konjungsi berkoordinasi
Konjungsi berkoordinasi adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara. Kemudian dilihat dari sifat hubungannya dikenal adanya konjungsi.
1) Menghubungka menjumlahkan (dan, dengan dan serta)
2) Menghubungkan memilih (atau)
3) Menghubungkan mempertentangkan (tetapi, namun, sedangkan dan sebaliknya)
4) Menghubungkan membetulkan (melainkan dan hanya)
5) Menghubungkan menegaskan (bahkan, malah/malahan, lagipula, apalagi dan jangankan)
6) Menghubungkan membatasi (kecuali dan hanya)
7) Menghubungakan mengurutkan (kemudian, lalu, selanjutnya dan setelah itu)
8) Menghubunglan menyamakan (yaitu, yakin, ialah, adalah dan bahwa)
b) Konjungsi subordinat
Konjungsi subordinat adalah konjugsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat. Konjungsi ini dibedakan oula atas konjungsi yang menghubungkannya.
1) Menghubungkan menyatakan sebab akibat (sebab atau karena)
2) Menghubungkan menyatakan persyaratan (kalau, jikalau, jika, bila, bilamana, apabila dan asal)
3) Menghubungkan menyatakan tujuan ( agar dan supaya)
4) Menghubungkan menyatakan waktu ( ketika, aewaktu, sebelum, sesudah, tatkala, sejak, sambil dan selama)
5) Menghubungkan menyatakan akibat (sampai, hingga dan sehingga)
6) Menghubungkan menyatakan batas kejadian ( sampai dan hingga)
7) Menghubungkan menyatakan tujuan atau sasaran ( untuk dan guna)
8) Menghubungkan menyatakan penegasan (meskipun begitu, biarpun, kendatipun, dan sekalipun)
9) Menghubungkan menyatakan pengandaian (seandainya dan andaikata)
10) Menghubungkan menyatakan perbandingan (seperti, sebagai dan laksana)
3. artikula (kata sandang)
Artikula adalah kata yang membatasi makna nomina. Dalam Bahasa Indonesia ada kelompok artikula, yaitu :
a) artikula yang bersifat gelar
Artikukla yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis-jenis artikula yang bersifat gelar :
1) sang : untuk menyatakan manusia atau benda unik dengan maksud meninggikan martabat;kadang-kadang juga dipakai dalam gurauan atau sindiran.
2) sri : untuk manusia yang memiliki martabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan.
3) hang : untuk laki-laki yang dihormati dan pemakaiaannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama.
4) dang :untuk wanita yang dihormati dan pemakaiaannya terbatas pada nama tokoh pada cerita sastra lama.
b) artikula yang mengacu makna kelompok
Atikula yang mengacu ke makna kelompok atau makna korelatif adalah para. Karena artikula ini mengisyaratkan ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah “para guru” dan bukan “para guru-guru”.
c) artikula yang menominalkan.
Artikula “si” yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, bergantung pada konteks kalimat. Contoh :
Si Amat akan meminag Si Halimah minggu depan.
Aduh, cantiknya si hitam manis itu.
4. interjeksi (kata seru)
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Secara stuktural, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, interjeksi ada yang berupa bentuk dasar dan ada yang berupa bentuk turunan. Berikut janis interjeksi dapat dikelompokan menurut perasaan yang diungkapkannya, sebagai berikut :
a) Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih, idih.
b) Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat.
c) Interjeksi kekaguman atau kepuasan : aduhai, amboi, asyik.
d) Interjeksi kesyukuran : syukur, alhamdulillah
e) Interjeksi harapan : insya allah.
f) Interjeksi keheranan : aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh, ah.
g) Interjeksi kekagetan : astaga, astagfirullah, masyaallah.
h) Interjeksi ajakan : ayo, mari.
i) Interjeksi panggilan : hai, be, eh, halo.
j) Interjeksi simpulan : nah.
5. Partikel.
Di samping kata-kata yang ternasuk kelas-kelas di atas ada pula sejumlah bntuk yang disini disebut partikel seperti kah, lah, pun dan per. Contoh:
Apakah isi lemari itu?
Siapakah namamu yang sebenarnya?
Ambillah mana yang kamu suka!
Saya tidak tahu, dia pun tidak.
Gaji kamu naik per satu April
Harganya Rp 1000 per lembar.
Senin, 07 Juni 2010
PENGHARGAAN DI PIALA DUNIA
Pada akhir setiap turnamen final Piala Dunia, beberapa penghargaan diberikan kepada pemain dan tim yang dianggap istimewa dibandingkan dengan yang lainnya berdasarkan aspek-aspek yang berbeda. Sat ini ada
· Sepatu Emas Adidas (Adidas Golden Shoe)
Penghargaan ini diperkenalkan sejak tahun 1982.
| Piala Dunia | Pemain | Jumlah gol |
| 8 | ||
| Edmund Conen (Jerman)
| 4 | |
| 8 | ||
| 9 | ||
| 11 | ||
| 13 | ||
| Garrincha (Brasil)
| 4 | |
| 9 | ||
| 10 | ||
| 7 | ||
| 6 | ||
| Pemenang Sepatu Emas adidas | ||
| | 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 6 | |
|
| 8 | |
|
| 5 | |
· Bola Emas Adidas (Adidas Golden Ball)
FIFA mengumumkan 10 unggulan pemain terbaik yang dipilih oleh wakil-wakil dari media. Posisi pertama mendapatkan Bola Emas adidas, posisi kedua: Bola Perak adidas dan ketiga: Bola Perunggu adidas.
| Piala Dunia | Bola Emas Adidas | Bola Perak Adidas | Bola Perunggu Adidas |
|
|
| Karl-Heinz Rummenigge
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|
· Penghargaan Yashin (Yashin Award) untuk penjaga gawang terbaik
Penghargaan ini namanya berasal dari nama seorang penjaga gawang Rusia yang legendaris, Lev Yashin.
| Piala Dunia | Penerima |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
· Penghargaan Permainan Adil FIFA (FIFA Fair Play Award) untuk tim dengan catatan fair play terbaik;
Penghargaan ini hanya diberikan kepada tim-tim yang lolos ke babak kedua.
| Piala Dunia | Penerima |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
· Tim Paling Menghibur.
Penghargaan Tim Paling Menghibur ditentukan melalui polling dari publik.
| Piala Dunia | Tim Paling Menghibur |
|
| |
|
| |
|
| |
|
|
www.id.wikipedia.org










































